Aku, Windi dan Rumah Sakit (1)

                “Iya, baiklah terserah kau saja asal kau berhenti menangis”. Badanku terasa lemas dan sakit semua mungkin efek dari kehujanan kemarin, tapi kali ini terasa lebih sakit mungkin aku diberikan bius oleh dokter saat menangani lukaku. Di kamar ini hanya ada aku dan windi yang sejak tadi sibuk membaca buku dan mengerjakan soal – soal latihan di bukunya, aku sengaja tidak memberitahu kedua orangtuaku karena aku takut mengganggu kegiatan mereka, toh ini juga hanya masalah kecil pengawal pribadiku pun sudah cukup untuk membantuku menyiapkan keperluanku selama dirumah sakit. “Windi,win...” seketika windi menoleh ke arahku dan menghentikan aktivitasnya, “Ada apa xel? Kau butuh sesuatu?” . “kemana Franklin ?”. “oh dia sudah dari tadi pulang kerumahnya, kau masih tidur dan dia tidak mau mengganggu tidurmu katanya jadi tidak sempat berpamitan”. “emm..baiklah, terimakasih”. “iya”. Keadaan kembali hening tanpa ada sepatah katapun diantara kami, yang terdengar hanya ketikan kalkulator ilmiah yang dari tadi asik menemani Windi mengerjakan soal.  “ Win, kau sudah makan?”. “ belum, oh iya itu di meja makan ada makanan dari rumah sakit dan obat yang harus kau minum. Kata dokter jangan sampai telat, dan juga ini pribadi pesan dariku cepatlah sembuh aku tak ingin berlama – lama menunggui orang sakit apalagi disini aku tidak suka bau ruangan rumah sakit”. “emm, iya terimakasih sudah mengingatkan. Aku akan makan sebentar lagi. Tenang saja aku akan segera sembuh,ada pesan lain?”. “tidak”. Tangan kananku yang di perban sampai kesiku   membuatku kesulitan untuk melakukan aktivitas yang biasanya kulakukan menggunakan tangan kanan, perutku sudah minta diisi dan aku tidak berani meminta Windi untuk menyuapiku, nanti dikira memafaatkannya kan tambah sulit nanti keadaannya. Kucoba saja sekuat yang aku bisa ternyata memang sulit dan tiba – tiba “Prang!” aku tak sengaja menjatuhkan nampan makananku ke lantai karena tangan kiriku tak cukup kuat memeganginya. Windi terperanjat dari tempat duduknya dan segera menghampiriku “Ya Tuhan! Kau ini kenapa lagi sih? Disuruh makan malah dibuang ke lantai, kalau kau tak suka kan bisa pesan makanan lain diluar xel”. “bukan, aku bukan tak suka jangan memarahiku terus, aku tadi berusaha mengambil makanannya dan mau makan dengan tanganku sendiri karena tak enak ingin meminta bantuanmu kulihat kau asyik dengan kegiatanmu”. “ kau ni bagaimana sih? Aku kan sudah bilang aku disini untuk menebus kesalahanku, tinggal kau sebut saja apa yang kau inginkan akan aku lakukan”. “semuanya?” sambil kutahan tawaku . “ceplak!” tiba – tiba Windi menepuk keningku dengan telapak tangannya “ Ya permintaan yang wajar saja, kalau kau minta aku beli rumah sakit ini ya mana mungkin aku bisa”. “siap komandan, jadi sekarang bagaimana? Aku lapar dan makananku tumpah semua”. “yasudah aku carikan makanan dulu untuk kau makan, setelah itu minumlah obatmu. Dan jangan sekali – kali melakukan hal ceroboh yang merugikan orang lain, kan kasihan petugas disini jika tiap hari harus membersihkan bekas tumpahan makananmu yang berserakan di lantai”. “iyaa..kau ini seperti orangtua saja”. “iya memang, aku sedang merawat anak kecil yang merepotkan” . “ehem, kau  ingin tak kumaafkan karena membuatku terluka?aku bisa menuntutmu loh. Hehe” .”coba saja kalau kau berani menuntutku, heem..atau kuracuni saja ya makananmu supaya kau tak menuntutku, hahaha”. Ia menunjukkan tawanya yang sadis kepadaku. “sudah – sudah jangan macam – macam, aku masih ingin bermain game online setelah aku sembuh. “baiklah, aku pergi”.  Wah ada hikmahnya juga aku sakit begini, setidaknya aku bisa mengobrol dengan Windi walaupun lebih banyak dimarahi daripada sekedar ngobrol.
                Tak lama Ia sudah kembali kerumah sakit membawa sebungkus makanan  untukku, dia langsung membuka dan menempatkan makanan itu di wadah makanan, lengkap dengan segelas teh hangat yang disiapkannya untukku. “ Kau tak makan?” tanyaku sambil memandangi Windi yang sibuk menyiapkan makanan untukku”. “ Tidak, nanti saja uangku tidak cukup jika harus membeli makanan untuk kita berdua. Seharusnya aku bisa makan kalau tak menumpahkan makanan dari rumah sakit ini”. “ Kenapa tidak kita makan berdua saja toh aku Cuma butuh makanan untuk menemani obatku kan?”. “ah tidak mungkin! Kau ini ada – ada saja aku tidak pernah makan sepiring berdua selain dengan Ay....” tiba – tiba Windi terdiam dan segera memberikan makananku. “Kau kenapa win?” . “Tidak apa – apa, ayo makan saja aku yang bantu”. “ bukan....ada sesuatu yang kau simpan kan?” . “Sudahlah! Kau makan saja, kenapa kau begitu merepotkan sih? Ayolah aku ingin segera pergi dari sini” tiba – tiba Windi menangis sambil menyuapiku, tangannya bergetar dan nafasnya tersengal menahan tangisnya. “ Iya aku minta maaf jika aku salah, biarlah aku saja kau tak perlu repot menyuapiku, istirahatlah”. “ Cepat! Kau ini kalau kubilang makan ya makan, kalau kubilang aku yang suap ya aku yang suap!”.”Iyaaaaa......yasudah” apalagi salahku Tuhan, gumamku dalam hati aku baru tau rasanya kebingungan karena wanita. “pffft.....panas win, ditiup dulu lah kan aku bukan pemain debus”. “masa iya sih? Kucoba dul.. pfftttt wah masih panas, maaf – maaf”. “ Hahaha kau ini kan sudah kubilang panas malah kau coba langsung”. “ Apa? Apa sih? Kau in kan aku Cuma memastikan”. “bagaimana? Panas kan?”. “Iyaaa...awm..”. “ Loh kok kau yang makan?”. “ Kenapa? Ada masalah? Aku juga lapar”. “ Iya iya....” kutahan senyumku melihat ia kembali tersenyum karena tingkah konyolnya sendiri, syukurlah meskipun aku penasaran tentang apa yang ia sembunyikan setidaknya aku tak perlu melihatnya menangis lagi. Malam pun tiba dan sudah waktunya untuk tidur, kulihat dia asyik sedang membaca buku dan mengerjakan soal latihannya “win aku tidur duluan ya”. “ Ya, tidak perlu laporan denganku juga kalau kau mau tidur tinggal kau pejamkan saja”. “Iya...maaf aku Cuma pamit”. “ Yasudah jangan lupa untuk bangun dari tidurmu, sekarang aku dirumah sakit aku tak mau repot ke pemakaman besok pagi kalau kau tak bangun – bangun”. “Wtf, apa – apaan itu barusan” gumamku dalam hati. Di tengah malam aku terbangun dari tidurku karena haus, kurasakan tangan kiriku berat dan aku sudah panik apakah aku benar – benar mati seperti yang dikatakan Windi ya. Setelah kulihat ternyata Windi tidur di kursi tepat disisi ranjangku dengan kepala menyandar ke ranjang tempat perawatanku. Anak ini kenapa tidur disini sih padahal aku sudah menyuruh pengawal pribadiku untuk membawakan tempat tidur lipat lengkap dengan perlengkapan tidurnya untuk Windi supaya bisa tidur dengan nyaman, tapi biarlah aku tak perlu membangunkannya untuk pindah ke tempat tidurnya dia pasti lelah karena terus – menerus belajar hari ini, yasudah sepertinya selimutku cukup untuk melindunginya dari dinginnya pendingin ruangan. Tak lama sesudah itu kudengar ia mengigau menyebut “Ayah, disini saja” berkali – kali ia mengigau seperti itu yang membuatku semakin penasaran. Kucoba untuk menenangkannya niatku hanya mengusap kepalanya supaya ia bisa tenang tapi kuurungkan niatku karena aku khawatir dia akan terbangun dari tidurnya dan menyangka aku akan berbuat yang tidak – tidak.
                Di pagi hari saat aku terbangun windi sudah rapih dan bersiap untuk pergi kesekolah, tak  heran jika ia bisa seenaknya memutuskan tidur dirumah sakit karena di kota ini ia mengontrak sebuah rumah dan tinggal sendirian sedangkan keluarganya ada di kampung halamannya di Jogja, mendengar kata jogja kalian pasti sudah bisa menebak dia dari etnis mana, yak benar sekali dia dari suku dayak yang tinggal di jogja dan tidak bisa berbahasa Jawa, berbeda sekali dengan orangtua ayah dan ibuku meskipun warga negara asing tapi fasih sekali berbahasa jawa bahkan sangat suka memakai Blangkon, yaitu penutup kepala khas dari adat Jawa. “ Aku berangkat ya, makananmu sudah kusiapkan diatas meja dan sudah kupisahkan ke wadah yang lebih mudah diangkat olehmu, selama aku sekolah kau akan sendirian disini”. “Iya terimakasih, hati – hati dijalan”. Kutatap langit yang cerah itu dari jendela ruang inap ku, sangat cerah dan sinar mentari yang hangat mengisi penuh kekosongan ruangan ini, windi kau kenapa? Kenapa kau begitu tak menyukaiku?apa salahku sebenarnya. 3 pertanyaan itu selalu memenuhi keplakau dan haus akan jawaban melebihi keinginanku untuk bisa terus bersama Windi. Oh iya aku harus minum obatku tepat waktu, kulihat beberapa wadah makanan tersusun rapi di meja yang ada disebelah tempat tidurku, kulihat sepertinya makanan yang ada bukan makanan dari rumah sakit, wah benar saja ini makanan rumahan. Dimana ia membeli semua makanan ini dan lagipula sepagi ini pasti belum ada rumah makan yang buka, masa sih dia masak sendiri? Dimana dan kapan kan di kamar ini tidak ada peralatan memasak, ah kenapa juga aku harus memikirkan itu yang penting kumakan saja sepertinya enak, aromanya juga sangat menggoda, tak lama setelah makan dokter datang memeriksaku katanya aku terlalu banyak bergerak sehingga perban lukaku tidak pada posisi yang semestinya, tapi katanya aku akan segera pulih. “Aku pulang”. Kudengar windi sudah pulang dari sekolah tapi lebih cepat dari jadwal sebenarnya jelas sekali sekarang baru pukul 10.00, “kok sudah pulang?”. “Iya, ada rapat mendadak antara para guru. Entah rapat apa, sudah kau makan makananmu?”. “sudah, enak sekali. Aku jadi ingat masakan ibuku dulu saat ibuku belum sesibuk sekarang”. “berlebihan sekali, itu masakanku dan aku tadi buru – buru karena aku harus kesini terlebih dahulu sebelum berangkat sekolah. Aku tau makanan rumah sakit tidak enak karena kemarin kucicipi sedikit makanya aku pagi – pagi sekali pulang kerumah dan memasak sedikit makanan”. “serius? Kenapa repot – repot sih? Kan ada pengawalku yang tinggal kau hubungi saja kan sudah aku berikan kontaknya kepadamu tinggal sebutkan saja kebutuhanmu disini dia akan membantumu”. “ oh tidak, maaf aku bukan anak manja sepertimu aku sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri daripada menikmati segala fasilitas yang hanya sekedar pemberian dari orangtuamu itu”. “eem....ok” tiba – tiba aku disadarkan oleh wanita ini, disaat wanita lain ingin mendekatiku karena semua yang aku punya justru wanita ini malah menolak mentah – mentah fasilitas yang aku berikan, aku malu kepada diriku sendiri karena perkataan itu. “oh iya, kenapa kau berikan selimutmu kepadaku kan kau yang sedang sakit disini”. “ apa?maskdunya?”. “tidak usah pura – pura tidak tahu lagi, mau kumarahi lagi kau seperti di gerbang sekolah?”. “iya iya aku yang menyelimutimu, habisnya kau tidur dengan nyenyak dan kau tidak memakai jaket untuk melindungimu dari dingin, maaf kalau aku salah lagi tak akan kuulangi”. “terimakasih” windi pun bergegas kembali duduk di sofa yang ada di sudut ruangan sambil memainkan HP nya. Hah? Aku tidak salah dengar barusan? Windi mengucapkan terimakasih kepadaku, ini pertama kalinya dia mengucapkan terimakasih kepadaku atas perbuatanku kepadanya,  akhirnya mulut itu mengucapkan sesuatu yang membuatku senang .

Comments

Post a Comment