Posts

Showing posts from August, 2019

Bullying Tamat

         Pagi ini kami sarapan berdua saja karena Franklin sudah dijemput oleh kedua orangtuanya tak lama setelah kami pulang semalam, “Wah badanku sakit semua rasanya”. “padahal kau semalaman hanya tidur”. “ Eh, iya ya kan semalam kita di bis kota. Kok pas bangun aku dikamar?” Windi melihatku dengan mata tajam. “apa?”. “Kau tidak macam – macam kan? Kalau sampai ketahuan awas kau ya!”. “hei cobalah sekali – sekali bertanya dulu. Siapa suruh kau tidur di bis kota, kau kira kau tidak berat? Aku yang menggendongmu sampai kuantarkan ke kamarmu, ngomong – ngomong makasih ya semalam. Enak lo”. Kubisikkan ditelinganya untuk menggodanya. “Axel!!!!!!!!!”. “ Tidak tidak ampun aku Cuma mengantarkan sampai kamar, ampun!”. “ hih! Awas kau ya. Kau kira bercandamu lucu. Walaupun kau kakak angkatku tapi awas saja kalau kau macam – macam akan kuberitahu ayah dan ibu!”. “Iya... aku ini cowok baik – baik kok”. “Hei,Axel. Perampokan pun modusnya sok kenal dan bai...

Bullying - Arena Bermain berakhir

Saat aku kembali kulihat ada beberapa laki – laki yang mengelilingi windi dan kulihat windi sedang menangis tak berdaya di kursi, aku pun segera berlari menghampiri Windi “Hei! Apa yang kalian lakukan?”. “wah wah wah, ada Axel rupanya disini. Kalian kencan ya? Hahahha”. Mereka ternyata teman satu tim ku di tim Esports. “apa yang kalian lakukan dengan Windi ?” sambil kutarik Windi supaya berdiri di belakangku. “tenang saja kami hanya ingin sedikit bermain saja dengan Windi, kan dia yang membuatmu masuk ke rumah sakit dan merugikan kita, ayolah...jangan rakus begitu mau ‘’main’’ sendirian dengan Windi “. Kusibakkan tangannya yang mencoba menyentuh Windi dan reflek memukul kepala Arwin. Terjadilah perkelahian dan pengeroyokan terhadapku ya walaupun aku mampu melawan dan bertahan, tapi semua orang melihat ke arah kami dan memisahkan kami. “wah wah , sudah berani ya sekarang ternyata kau lebih memilih cewek ini daripada kami yang sudah lama menemanimu “. “untuk apa aku memilih kalian, k...

Bullying - arena bermain

               Saat weekend kami tidak ada jam pelajaran disekolah, karena kami hanya sekolah sampai hari jumat saja. Saat bangun tidur Franklin tiba – tiba memanggilku dan mengajakku membuat rencana untuk mengembalikan senyum windi seperti sedia kala. “Xel, kasihan tuh Windi gimana kalau kita buat misi rahasia untuk mengembalikan senyum Windi?”. “Caranya? Bentar yah otakku masih ngelag nih baru bangun tidur, sabar”. “gimana kalau kau ajak dia jalan – jalan saja terserahlah kemana, berenang, ke taman atau kemanalah yang penting asik”. “ bukannya nani jadi aneh?”. “Enggak...percaya deh”. “okelah nanti kucoba, sekarang sarapan dulu yok”.                 Tak seperti biasanya Windi sudah duduk duluan di meja makan, dan sepertinya menunggu kami bangun. “Windi? Kau mau kemana?”. “maksudnya? Ya mau sekolah lah mau kemana lagi?”. “Pfffftt...haha...

Bullying (3)

                Setelah malam itu berlalu tibalah di pagi hari untuk kembali beraktivitas selayaknya seorang siswa SMA dengan segala sok sibuknya, Windi sudah bangun pagi – pagi sekali untuk menyiapkan sarapan untuk kami,   aku selalu sarapan lebih dulu daripada Wndi karena aku selalu berangkat lebih awal supaya perjanjian kami tetap terjaga, begitupun ketika ada Franklin dirumahku, aku tetap mengajak Franklin untuk berangkat leih awal. “Eh kok kalian gak bareng sih? Kan kalian satu rumah” tanya Franklin di sela – sela sarapan. “ Kau mau kuculik lagi seperti tadi malam?”. “Oh oke oke aku paham, jangan begitu lah bro kan Cuma tanya”. “Ok, ayo saatnya kita berangkat”.   Di tengah perjalanan kami banyak ngbrol tentang bagaimana perjalanan Tim kami di kejuaraan Nasional kemarin, kebetulan aku memang belum menanyakan ini kepada teman – teman selama dirumah sakit, Franklin banyak sekali becerita tentang b...

Bullying (2)

                 “Yasudah win lain kali saja kita bahas lagi, aku sudah ditunggu teman – temanku”. Aku melanjutkan kegiatanku bersama – teman, tiba – tiba terdengar suara bel rumah berdering beberapa kali, akupun bergegas membuka pintu rumah, didepan pintu rumahku kulihat sosok setinggi diriku, berpakaian lusuh, dan membawa tas ransel ala anak gunung membelakangiku. “maaf mas, cari siapa ya?”. Dia pun membalikkan badannya, ternyata Franklin dia kabur dari rumah karena dimarahi ibunya, “ oy mamang! Hahaha kukira kau tunawisma darimana. Ayo masuk”. “Tunawisama dengkulmu anjlok, paling suka ya kalau lihat aku menderita”. Aku benar – benar lupa kalau dirumahku juga ada windi dan orang lain tidak boleh tahu kalau kami satu rumah. Tentu saja kupersilahkan franklin tidur di kamarku bersamaku, karena kamar untuk tamu sudah digunakan oleh windi, setelah berbincang – bincang cukup lama dengan Franklin tak terasa wakt...