Bullying (2)
“Yasudah
win lain kali saja kita bahas lagi, aku sudah ditunggu teman – temanku”. Aku
melanjutkan kegiatanku bersama – teman, tiba – tiba terdengar suara bel rumah
berdering beberapa kali, akupun bergegas membuka pintu rumah, didepan pintu
rumahku kulihat sosok setinggi diriku, berpakaian lusuh, dan membawa tas ransel
ala anak gunung membelakangiku. “maaf mas, cari siapa ya?”. Dia pun membalikkan
badannya, ternyata Franklin dia kabur dari rumah karena dimarahi ibunya, “ oy
mamang! Hahaha kukira kau tunawisma darimana. Ayo masuk”. “Tunawisama dengkulmu
anjlok, paling suka ya kalau lihat aku menderita”. Aku benar – benar lupa kalau
dirumahku juga ada windi dan orang lain tidak boleh tahu kalau kami satu rumah.
Tentu saja kupersilahkan franklin tidur di kamarku bersamaku, karena kamar
untuk tamu sudah digunakan oleh windi, setelah berbincang – bincang cukup lama
dengan Franklin tak terasa waktu sudah mulai senja dan matahari mulai
bergantian sift dengan rembulan, Aku mengajak Franklin untuk makan malam begitu
juga dengan windi, aku mengajaknya melalui pesan singkat yang kukirim melalui
HP ku. Ketika windi keluar dari kamar
bersamaan dengan Franklin mereka sama – terkejut. “Loh Windi?”. “eeeh aku bukan
windi” windi langsung berlari masuk ke kamarnya dan mengunci pintu, tiba – tiba
Franklin berlari mendekatiku “ bro, Windih kok adah disin?” napasnya masih
ngosngosan karena berlari. “waduh, iya ya kan tidak ada yang tau kalau kami
satu rumah” gumamku dalam hati, “I..iya memang ada Windi dirumahku, nanti ku
jelaskan, Windi! Win...ayolah Franklin
tidak menggigit kok win”. Akhirnya windi mau ikut makan malam bersama.
di sela
– sela makan malam Franklin kembali bertanya kepadaku kenapa Windi bisa
dirumahnya. “Oh itu...Iya iya, jadi gin..aduh” sepakan windi tepat megenai
tulang keringku. “ Jadi gini Frank, aku
kerja dirumah Axel sebagai pemb..aduh apa sih?” kusepak kaki windi gantian
sontak dia langsung melotok ke arahku sambil menodongkan garpu di tangannya.
“jadi gini Frank, dia sekarang anak angkat keluarga kami dan dia sekarang
adalah adik angkatku”. “ Bentar – bentar, Windi? Axel? Terus?”Franklin masih
bengong mungkin karena bingung, sedangkan aku dan windi senyum – senyum saja
sambil menatap wajah bodoh Franklin yang belum paham. Franklin tiba – tiba
membisikkan sesuatu ditelingaku “ Bro, ciie kakak adekan. Udah pasti ditolak
sebelum nembak, wkwkwkw” kubalas dengan membisikkan ditelinganya “ Bisa ae lu
biji salak, sssst dia belum tau cerita sebenarnya”. Setelah itu kami pun pulang
kerumah .
sessampainya dirumah sebelum tidur kami menyidang
Franklin karena kami tahu kalau dia mulutnya sering “bocor halus”, kusuruh
pengawalku melakukan misi “penculikan” terhadap Franklin dan mendudukkannya di
kursi yang diletakkan di gudang. Aku tidak membayangkan bagaimana reaksi anak
mami yang satu itu, setelah semua berjalan lancar akupu dan windi pun pergi ke
gudang dan memakai topeng. “Tollll....em.....ampun bang” kulihat Franklin
meronta – ronta di kursi dan ketika kubuka matanya kami semua berteriak “ ini
Cuma prank!!”, diluar duugaan Franklin mengompol dan membuat kami semua tertawa
terbahak – bahak . “stop stop stop top, wkwkw Frank kita Cuma ngeprank kok eh
tolong dong lepaskan talinya, jadi kita Cuma mau kamu tidak membocorkan rahasia
ini ke siapapun, dimanapun dan kapanpun kalau aku dan windi satu rumah, oke?”.
“Wah begoooo! Axel awas ya, aman ku jamin bos, malu kan jadinya mana diihat
windi juga”. Tiba – tiba windi mengajak kembali kerumah karena sebenarnya dia
sudah melarangku melakukan ini , maklum saja hal – hal seperti ini tidak akan
pernah terasa nikmat bagi anak seperti dia, kenikmatan yang hakiki baginya
hanyalah belajar dan menjalani hidup sebagai manusia normal saja, sedangkan
bagiku hidup ini tidak hanya tentang setumpuk kertas yang disusun rapi lengkap
dengan tulisan yang sesekali menjorok kedalam dan dibubuhi halaman disetiap
lembarnya, tapi juga bagaimana kita merayakan hari ini untuk investasi kita di
masa mendatang maka ciptakanla kesan positif pada setiap moment nya supaya bisa
diingat bersama – sama.
Comments
Post a Comment