Bullying (3)


                Setelah malam itu berlalu tibalah di pagi hari untuk kembali beraktivitas selayaknya seorang siswa SMA dengan segala sok sibuknya, Windi sudah bangun pagi – pagi sekali untuk menyiapkan sarapan untuk kami,  aku selalu sarapan lebih dulu daripada Wndi karena aku selalu berangkat lebih awal supaya perjanjian kami tetap terjaga, begitupun ketika ada Franklin dirumahku, aku tetap mengajak Franklin untuk berangkat leih awal. “Eh kok kalian gak bareng sih? Kan kalian satu rumah” tanya Franklin di sela – sela sarapan. “ Kau mau kuculik lagi seperti tadi malam?”. “Oh oke oke aku paham, jangan begitu lah bro kan Cuma tanya”. “Ok, ayo saatnya kita berangkat”.  Di tengah perjalanan kami banyak ngbrol tentang bagaimana perjalanan Tim kami di kejuaraan Nasional kemarin, kebetulan aku memang belum menanyakan ini kepada teman – teman selama dirumah sakit, Franklin banyak sekali becerita tentang bagaimana serunya sensasi kejuaraan nasional karena bisa beretemu dengan Tim Esports  terkenal yang datang untuk mewakili kota mereka contohnya Evas Esports, RRW Esports, Louver Esports dan masih banyak lagi. Tentu saja ini adalah kejuaran nasional perdana bagi kami dan malangnya kami belum bisa mendapatkan juara dalam kejuaraan ini, aku sengaja berangkat kesekolah berjalan kaki dengan Franklin supaya bisa menikmati udara pagi yang segar, karena terlalu lama berdiam diri dirumah aku jadi merindukan suasana pagi hari di kota ku, windi tentu saja ku titipkan kepada pengawal pribadiku untuk mengantar dan menjemputnya pulang dengan mobil yang berbeda dengan yang digunakan  untuk mengantar dan menjemputku supaya rahasia kami tetap terjaga.
                Sesampainya dikelas , suasananya sudah ramai semua orang tertawa tanpa henti tapi tidak dengan Windi, kulihat dia murung sambil memegang secarik kertas yang sudah ia remas dengan kedua tangannya, air matanya mengalir tanpa henti brsamaan dengan nafasnya yang tersengal. Sontak aku langsung berlari menghampirinya “Kau kenapa Win?”. Windi hanya menggeleng sambil menahan tangisnya, kurebut secarik kertas di tangannya dan kubaca isinya bertuliskan “DASAR ORANG MISKIN TIDAK TAHU MALU, SUDAH SALAH TIDAK MAU MEMINTA MAAF KEPADA AXEL KAMI” , pagi – pagi Aku sudah dipaksa untuk marah karena kejadian ini. “ Diam kalian semua! Siapa yang menulis ini ?!” semua orang terdiam saat aku teriak dan mengacungkan secarik kertas itu ke arah langit. “Axel sudahlah itu pantas untuk dia karena melukaimu, orang miskin memang tidak tahu malu dia tidak sadar siapa dia disni ” seorang wanita yang tidak kupedulikan namanya berbicara sambil memegang pundakku. “Siapa yang miskin?siapa! kau tahu seberapa miskin dirimu dibanding dia?” kubentak dia sambil mengambil HP ku untuk memberi perintah kepada sekretaris perusahaanku agar membatalkan semua kerjasama dengan perusahaan milik ayah wanita itu. “Kau tunggu saja sebentar lagi kau akan tahu betapa miskinnya dirimu”.  Tak lama setelah itu ia mendapatkan pesan singkat dari ayahnya bahwa semua perjanjian dengan perusahaan ayahku dibatalkan dan semua saham sudah kami ambil alih. “Axel tolong jangan seperti ini aku tidak bisa seperti ini Axel”. “Perhatikan kalian semua! Siapapun yang menulis ini kuperingatkan kalian betapa miskinnya kalian daripada seorang windi. Kalian hanya memiliki uang yang bisa kapanpun musnah, masih adalagi yang ingin jatuh miskin harta selain orang ini?!” dengan penuh amarah aku memperingatkan semua orang dikelas sambil menujuk – nunjuk wanita tadi. “ Xel , sudahlah jangan diteruskan semua orang meihat ke arahmu ayolah redam sedikit amarahmu” bisik Franklin mengingatkanku. Akupun menyudahi amarahku pagi itu, “ Windi, mulai sekarang siapapun yang menyakitimu akan aku singkirkan, pegang kata – kataku”. Windi mengangguk sambil menyeka air matanya yang dari tadi sudah berlinang. 
            Desas desus tentang aku dan windi mulai tak sedap entah darimana kabar tidak jelas itu dimulai semua orang mulai membicarakan kami. Walaupun begitu semua orang masih belum tahu kalau kami tinggal dalam satu rumah, saat makan siang aku mengajak Windi untuk makan di kantin sekolah tapi windi menolakku, baiklah mungkin dia tidak lapar. Begitu juga saat pulang sekolah kuajak dia untuk menuju gerbang bersama – sama Ia juga menolakku, sejak hari itu Windi bukanlah windi yang riang, Windi bukanlah windi yang aktif dikelas dan semua orang di kelas tetap mengucilkan dia, dalam hari – hariku aku selalu mengajak windi berangkat kesekolah bersama, ke kantin bersama dan menuju gerbang sekolah juga bersama -sama tentu saja dengan semua penolakan yang ia berikan kepadaku, ketika dirumah ia tak pernah lagi makan bersama di meja makan bersamaku, bahkan lebih sering mengurung diri di kamar aku paham kalimat pada kertas itu pasti sangat melukai hatinya, aku harus bisa membangun semangat windi supaya ia bisa seperti sedia kala.

Comments