Bullying - Arena Bermain berakhir


Saat aku kembali kulihat ada beberapa laki – laki yang mengelilingi windi dan kulihat windi sedang menangis tak berdaya di kursi, aku pun segera berlari menghampiri Windi “Hei! Apa yang kalian lakukan?”. “wah wah wah, ada Axel rupanya disini. Kalian kencan ya? Hahahha”. Mereka ternyata teman satu tim ku di tim Esports. “apa yang kalian lakukan dengan Windi ?” sambil kutarik Windi supaya berdiri di belakangku. “tenang saja kami hanya ingin sedikit bermain saja dengan Windi, kan dia yang membuatmu masuk ke rumah sakit dan merugikan kita, ayolah...jangan rakus begitu mau ‘’main’’ sendirian dengan Windi “. Kusibakkan tangannya yang mencoba menyentuh Windi dan reflek memukul kepala Arwin. Terjadilah perkelahian dan pengeroyokan terhadapku ya walaupun aku mampu melawan dan bertahan, tapi semua orang melihat ke arah kami dan memisahkan kami. “wah wah , sudah berani ya sekarang ternyata kau lebih memilih cewek ini daripada kami yang sudah lama menemanimu “. “untuk apa aku memilih kalian, kukira kalian orang baik ternyata kalian sama saja dengan binatang”. “Kita lihat saja apa kau masih berani menampakkan mukamu lagi dalam Party tim kita selanjutnya”. “ Tidak perlu, mulai hari ini aku keluar dari Eclipse Esports”. Mereka terkejut dan orang – orang disekitarku juga terkejut dan mulai mengeluarkan ponsel mereka untuk mengambil beberapa gambar dan merekam pembicaraan kami.
                Sesudah itu kutinggalkan mereka dan kuajak Windi untuk melanjutkan permainan, namun Windi menolak. “ Xel sudahlah ayo obati dulu lukamu” .” tenang saja kan Cuma kena pukul , bukan kena benda keras atau benda tajam. Sebentar lagi juga sembuh. Hahaha” . Plak !! Windi menamparku, “ kau bilang Cuma? Cuma kena pukul? Kau kira kau hebat? Orang bodoh mana yang mau berkelahi dengan 4 orang hanya untuk membuat mereka berhenti mengganggu, selanjutnya pasti kau yang akan jadi sasaran”. “bukannya sudah menjadi tugasku untuk menjaga adikku? kan aku sudah berjanji untuk menjagamu” . Windi diam menundukkan wajahnya yang memerah, “ Sudahlah jangan menyesal begitu, ayo kita cari makan dulu aku lapar nih tenagaku sudah terkuras habis” . kuusap kepala Windi sambil berlalu, sedangkan windi masih menundukkan kepalanya sambil mengusap air matanya, kuhentikan langkahku karena kulihat windi masih diam mematung di belakangku. “hei Win, ayolah kau tak ingin makan?”. Tiba – tiba Windi berlari dan memelukku, “dasar bodoh, kau bodoh kak. Aku sangat khawatir bagaiama kalau kau tadi kenapa – napa, bagaimana aku menjelaskan kepada orangtuamu?”. Aku terkejut, aku tidak tahu harus senang  atau sedih di sisi lain setidaknya aku merasakan bagaimana windi mulai mengkhawatirkan dan memperhatikanku, tapi di sisi lain dia menganggapku sebagai kakaknya saja. “ yah yah, sudahlah jangan dipikirkan ayo makan. Kau ini mudah sekali menangis” sambil melepaskan pelukannya.
                Sesudah makan kuajak dia untuk menonton Film di bioskop, ternyata dia mau dan malah memilih untuk menonton Film horor, padahal ini malam minggu kenapa tidak nonton film romantis saja sih pikirku, oh iya Axel ingat Axel dia adikmu...jangan curi – curi kesempatan. Terlebih dahulu kami mengambil tiket yang sudah kami beli secara online jadi kami tidak perlu mengantre bersama pengunjung lain. “Win kau suka horor ya?” . “suka, untuk latihan biar berani kalau ada hantu”. “pfft padahal ada kucing di balik tirai saja takut”. “apa sih? Aku gak ingat kok”. Saat menonton pun windi yang kukira berani karena suka genre film ini malah lebih banyak menutup matanya. “Eh Win, mau nonton Film horor kok matanya ditutup”. “biar Cuma denger suaranya”. “Lah kalau gitu enak kita nonton Radio dong, kan Cuma suaranya. Dasar penakut. Wleek”. “apasih? Siapa yang pena...Waaaaa!!!!”. tiba – tiba Windi meringkut dan memegang lenganku, semua orang terkejut dan melihat ke arah kami. “Maaf ya pak, buk hehe adik saya memang penakut” Aku meminta maaf kepada semua pengunjung bioskop karena tingkah Windi. “apa itu tadi xel, kok seram”. “lah itu kan Cuma pocong”. “ pocong kok kayak permen dibungkus? Kau bohong ya?”.”ya kalau tidak dibungkus mau diapain? Dipanggang bareng daun pisang?itu mah pepes hahaha” . “ Ya enggak, baru kali ini aku lihat pocong”. “sudah – sudah, lepasin tanganku. Kalau tau gini lebih enak kita nonton film yang judulnya TAMAT saja tadi lumayan kan bisa lihat manusia besi, Mata rajawali, manusia laba – laba yang ngelawan Thermos” .
                Saat keluar dari bioskop aku masih menahan tawaku karena mengingat Windi yang ketakutan dan tidak tahu bagaimana bentuk pocong yang sebenarnya, tak terasa sudah jam 10 malam dan kuajak Windi untuk pulang. Kami pulang menggunakan angkutan umum karena memang aku sengaja tidak minta ditemani pengawalku, selama di perjalanan Windi hanya tidur saja menyandarkan kepalanya di bahuku, mungkinn ia terlalu lelah bermain diluar. Sesampainya di halte bus yang dekat rumahku Windi masih tertidur pulas, daripada membangunkannya aku lebih memilih untuk menggendongnya sampai ke rumah, sembari berjalan menggendong windi aku menoceh sendiri tentang keadaan yang sedang kuhadapi karena aku yakin windi tak mendengarkanku, inilah satu – satunya kesempatanku untuk berbicara tentang semuanya didepan windi, walaupun windi juga tidak akan tahu. “ Win, posisiku sekarang makin sulit nih, sudah sekian lama aku nyaman menjadi pengagum rahasiamu, tiba – tiba hari itu kau memergokiku sedang menunggumu. Sesudah itu aku Cuma mau membantumu lewat payungku supaya kau tidak kehujanan, jangankan bisa menarik perhatianmu kau justru mempermalukanku didepan orang banyak, tak lama sesudah itu kau membuatku masuk rumah sakit sampai satu minggu. Dalam waktu singkat kenapa kenyamananku langsung sirna ya, lalu sekarang? Kita malah menjadi kakak beradik ya walaupun kau anak angkat ayahku, dan sah – sah saja bila suatu hari kita pacaran atau lebih jauh lagi. Win, sulit sekali berada di posisi ini, aku harus memisahkan perhatianku antara Aku sebagai kakakmu dan Aku sebagai pengagum rahasiamu. Win win, semoga suatu hari kau paham dengan perasaanku”. Tak lama sesudah itu kami sampai di rumah dan Windi masih nampaknya masih tidur dengan pulas sampai kuantarkan dia kekamarnya dan akupun kembali ke kamarku untuk beristirahat.

Comments