Bullying Tamat


         Pagi ini kami sarapan berdua saja karena Franklin sudah dijemput oleh kedua orangtuanya tak lama setelah kami pulang semalam, “Wah badanku sakit semua rasanya”. “padahal kau semalaman hanya tidur”. “ Eh, iya ya kan semalam kita di bis kota. Kok pas bangun aku dikamar?” Windi melihatku dengan mata tajam. “apa?”. “Kau tidak macam – macam kan? Kalau sampai ketahuan awas kau ya!”. “hei cobalah sekali – sekali bertanya dulu. Siapa suruh kau tidur di bis kota, kau kira kau tidak berat? Aku yang menggendongmu sampai kuantarkan ke kamarmu, ngomong – ngomong makasih ya semalam. Enak lo”. Kubisikkan ditelinganya untuk menggodanya. “Axel!!!!!!!!!”. “ Tidak tidak ampun aku Cuma mengantarkan sampai kamar, ampun!”. “ hih! Awas kau ya. Kau kira bercandamu lucu. Walaupun kau kakak angkatku tapi awas saja kalau kau macam – macam akan kuberitahu ayah dan ibu!”. “Iya... aku ini cowok baik – baik kok”. “Hei,Axel. Perampokan pun modusnya sok kenal dan baik – baik saja  asal kau tau”. “sudah – sudah daripada semakin jauh yang kita bicarakan lebih baik kita berankat. Tuh mobilmu sudah menunggu”. “oke, ayok”.
                Suasana masih tidak mengenakkan untuk Windi, semua orang masih tidak mau berbicara dengannya. Aku masih memperhatikannya dari bangku ku kalau saja ada yang mengganggunya lagi. Tiba – tiba Windi pergi dengan tergesa – gesa kucoba mengikutinya dari belakang tapi penelusuranku terhenti karena ia masuk ke toilet wanita, jadi aku hanya menunggunya di depan toilet. Tidak lama setelah Windi masuk ke toilet kudengar suara gaduh dari dalam toilet, rasanya seperti orang bertengkar. Kuperhatikan lagi dengan seksama supaya aku tidak salah dengar. “Kau ini tidak tau malu ya?” teriak seorang siswi tapi entah kepada siapa dia berbicara. Lalu kudengar lagi beberapa wanita juga ikut berbicara. “Kau pakai apa? Kok Axel bisa membelamu seperti kemarin?”. “Hei! Dengar aku, gara – gara kau yang cengeng itu aku kehilangan semua kemewahan yang kupunya!”. Tak lama setelah teriakan itu kudengar guyuran air “Byuuuuur”. “Hahaha rasakan dasar orang tidak tahu malu, kau dan Axel itu sangat berbeda derajatnya!”. “Braaaaak!” kudobrak pintu toilet itu dan kulihat Windi sudah terduduk lemas dengan seragam yang basah, selain itu kulihat bekas tamparan di pipinya. “Hei ! Apa yang kalian lakukan?!”. Mereka terkejut karena aku tiba – tiba datang . “Ehm....ini ini Axel aku bisa jelaskan, tadi...tadi..”. “Halah sudahlah, kalian tunggu saja waktunya kalian tiba untuk kubalas!”. Kubopong Windi menuju UKS sekolah, sepanjang perjalanan dari toilet wanita ke UKS semua orang memandangiku yang membopong Windi. “Axel.....”. “Iyaa ini aku, tenang saja semua sudah baik – baik saja”. “Sakit Axel, aku tidak mau sekolah lagi. Aku takut Axel...” kudengar suara Windi lirih dan sesudah itu pingsan.
                Saat di UKS semua kuserahkan kepada petugas piket UKS untuk merawat Windi, kulepas Bajuku dan celananku pun kuberikan kepada mereka “ Tolong ya, berikan pada Windi kasihan bajunya basah aku yakin dia tidak membawa baju ganti”. Kutunggui windi di sisi ranjang UKS berharap ia cepat sadar dan tidak terjadi apa – apa. Sebelum Windi sadar dokter sekolah memanggilku untuk menemuinya. “Iya dok? Ada apa memanggil saya?”. “ apa benar kamu ada di tempat kejadian saat ini terjadi?”. “Iya benar”. “apa kamu tahu anggota keluarga Windi yang bisa kita hubungi? Ini tentang hasil pemeriksaan kesehatan Windi”. “em.... saya, saya kakaknya dok. Dokter bisa ceritakan kepada saya”. “bagaiaman bisa kalian kakak beradik tapi kalian ada di tingkat yang sama, kamu pacarnya?”. “bukan dok, dia adik angkat saya. Silahkan ceritakan”. “jadi,yang pertama saya beritahu kabar baiknya dulu , menurut hasil pemeriksaan kesehatan barusan tidak terjadi cidera berarti dari kejadian tadi,  tapi kabar buruknya windi mengidap Lemah jantung . akibat dari penyakitnya itu windi tidak bisa menerima tekanan yang berat seperti kita, jadi tolongn kau sebagai kakaknya kau harus menjaga Windi lebih ekstra. Apa sebelumnya kau tau penyakit windi?”. “Tidak, saya baru tau. Terimakasih dok. Saya kembali ke UKS dulu”.
                Saat di UKS, aku masih tidak percaya orang yang lemah seperti ini tapi mampu selalu ceria setiap hari dan membagikan kebaikan kepada semua orang. “Windi, apa kau tidak menyaadari penyakitmu selama ini?kau kan ahli di bidang BIOlogi” . Karena terlalu lama menunggu Aku tertidur di sisi ranjang sambil memegang tangan Windi. “Axeeel...”. “Eh kau sudah sadar windi”. “Aku takut kak!”. Windi tiba – tiba memelukku. “I..iyaa tidak apa – apa ada aku disini. Semua sudah baik – baik saja, jangan khawatir ya”. “Aku takut kak...aku takut”. “iyaaa sudah – sudah sekarang kita pulang saja ya, ganti dulu bajumu. Bajuku kan terlalu besar untuk badanmu yang kecil itu”. Windi mengangguk dan kuajak pulang. Sepanjang jalan menuju gerban semua orang memandangi kami karena Windi meringkuk di pelukanku dengan memaki bajuku sedangkan aku hanya memakai baju biasa dan jelas itu melanggar peraturan sekolah, tapi aku tak peduli karena yang terpenting bagiku adalah Windi.
                Saat dirumah kubuatkan ia secangkir coklat panas untuk menghangatkan tubuhnya, dan kutemani ia minum di meja makan. Windi masih tertunduk diam seribu bahasa, trauma yang disebabkan anak – anak itu memang luar biasa dan ini sudah berlebihan. “ Windi, apa kau ingin membalas mereka? Kalau kau mau keluarga kita bisa mengambil alih yayasan dan memaksa sekolah mengeluarkan mereka. Tinggal sebut saja apa yang kau mau”. “Tidak xel, aku tidak mau membalas mereka. Jangan kau balas ya, mereka orang – orang jahat kau jangan ikut menjadi jahat. Kumohon”. Aku terkejut mendengar jawabannya, orang macam apa dia ini bisa begitu baiknya dia, jangan – jangan dia dulu adalah malaikat yang diubah menjadi manusia. “yasudah, kau tetap sekolah ya aku akan menjagamu, aku berjanji”. Kupegang tangan Windi dan kutatap kedua mata coklatnya. “Iya..xel terimakasih ya”. Mukaku memerah melihat senyum manisnya yang sudah lama tak kutemui dan sepertinya aku semakin jatuh cinta padanya. Notifikasi Pesan singkat masuk ke HP ku, ternyata dari Franklin ia memberikan kabar baik menurutku, anak – anak yang membully Windi sudah di keluarkan dari sekolah. Aku semakin yakin Windi akan baik – baik saja disekolah.

Comments