Bullying - arena bermain

               Saat weekend kami tidak ada jam pelajaran disekolah, karena kami hanya sekolah sampai hari jumat saja. Saat bangun tidur Franklin tiba – tiba memanggilku dan mengajakku membuat rencana untuk mengembalikan senyum windi seperti sedia kala. “Xel, kasihan tuh Windi gimana kalau kita buat misi rahasia untuk mengembalikan senyum Windi?”. “Caranya? Bentar yah otakku masih ngelag nih baru bangun tidur, sabar”. “gimana kalau kau ajak dia jalan – jalan saja terserahlah kemana, berenang, ke taman atau kemanalah yang penting asik”. “ bukannya nani jadi aneh?”. “Enggak...percaya deh”. “okelah nanti kucoba, sekarang sarapan dulu yok”.
                Tak seperti biasanya Windi sudah duduk duluan di meja makan, dan sepertinya menunggu kami bangun. “Windi? Kau mau kemana?”. “maksudnya? Ya mau sekolah lah mau kemana lagi?”. “Pfffftt...hahahaha, kau mau sekolah kemana?” sontak aku dan Franklin tertawa sekencang – kencangnya dan windi tiba – tiba berpikir. “Eh hari ini hari apa sih? Hah! Oh iya hari ini hari sabtu haduh....aku mau ganti baju dulu tunggu aku ya sarapannya” dia langsung berdiri dan berlari ke kamar untuk ganti baju. “Ayo makan” ajaknya setelah mengganti bajunya, di sela – sela sarapan Franklin memberi isyarat untuk memulai pembicaraan dengan windi sesuai dengan rencana yang kami susun. “Psst...Psst...ayolah”. “Eem....Win, hari ini kau sibuk tidak?”. “Ehem” jawab windi sambil menggelengkan kepalanya. “Eeee jalan yuk?” tiba – tiba Windi berhenti makan dan melihat kearahku “Gak usah aneh – aneh ya”. “dasarrrrr Axel begooooo, eeeem maksudku jalan – jalan iya jalan – jalan,  ada banyak diskon di arena bermain PLAYTIME”. “Diskon? Okelah boleh, jangan sampai dilewatkan kalau diskon kita berangkat 30 menit lagi ya.” “dasar cewek kalau dengar diskon langsung khilaf” gumamku dalam hati. “Eh, Franklin ikut kan?”. “Tidak ,aku tidak ikut Win badanku sedang kurang sehat jadi mau istirahat saja dirumah”. “baiklah kalau begitu”.
                Setelah menunggu selama 30 menit akhirnya Windi keluar juga dari kamar, betapa terkejutnya aku melihat Windi berpakaian seperti ini , belum pernah sekalipun aku melihatnya. Rambutnya yang diikat di belakang lengkap dengan topinya, dipadukan dengan Kaos dan celana jeans beserta sepatu kets nya. “me..ba..ba..ba...ba em, kau windi?” tanyaku sambil bengong. “Iya, ayolah berangkat mau tunggu apalagi?”. Sesampainya kami di tempat bermain, semua orang meamndangi Windi, semua perhatian tertuju padanya karena hari ini Windi benar – benar cantik, hanya saja ia masih belum memberikan senyum termanisnya untuk menyempurnakan kecantikannya. Wahana yang kami coba pertama kali adalah BomBomCar, “Xel, jangan main ini ya aku tidak berani” mohonnya dengan muka memelas. “Ayolah...aku yang pegang kendali kau tinggal ikuti saja nanti kita barbar didalam”. “Barbar?”. “Iyaaa barbar ayolah kita masuk”. “Eh eh eh...Axel!” reflek tanganku menarik tangan Windi supaya kami tidak terpisah. Sepanjang permainan windi mulai tersenyum melihat tingkah konyol yang kubuat. “Bagaimana buk? Mush ada disebelah mana?” tanyaku kepada Windi yang kujadikan sebagai penunjuk arah “Disana kapten! Mobil warna hijau, 2 penumpang orang yang sedang pacaran. Mari kita ganggu”. “Lets go komandan” dan kamiun melaju tanpa henti sampai akhirnya windi mengajak berhenti karena bosan “Xel kepalaku pusing karena main itu tadi, kita istirahat sebentar ya”. “Iya iya sebentar ya aku beli minuman dulu”.

Comments