Aku, Windi dan Rumah Sakit (2)


           Sesekali kulirik windi yang berbaring di sofa sambil memainkan HP nya, kulihat ia sesekali tersenyum sendiri. “Win, sehat?”. “he?maksudnya?”. “kalau senyum ajak – ajak dong jangan sendiri nanti dikira gila lo hahaha”. “apa sih? Tidak usash ikut campur, ini bukan urusanmu” dengan nada kesal ia membungkamku. “Oh iya, kata dokter aku terlalu banyak gerak jadi perbanku tidak pada posisi yang seharusnya”. “Geraaaak terooooos mang! Siapa suruh sok kuat kemarin”. “tapi kata dokter aku akan segera sembuh kok”. “itu yang penting, aku sudah ingin segera pulang dari sini”. Sampai sore tiba windi hanya melakukan dua kegiatan yaitu belajar dan bermain HP sedangkan aku hanya bisa berbaring di ranjang. “ Win, aku boleh minta tolong?”. “apa?jangan macam – macam ya”. “tidak.... kau ini cobalah sekali saja tidak judes, apa sih salahku?”. “cepat kau mau apa?”. “ tolong ambilkan HP ku di tas, aku ingin bermain game sebentar rasanya sudah lama sekali aku tidak main”. “ kau lupa ya kalau tanganmu di perban?”. “oh iya ya,aku lupa yasudah ambilkan saja HP ku setidaknya aku bisa melakukan hal lain selain berbaring saja disini. Aku bosan sekali satu ruangan dengan manusia tapi seperti sendirian”. “maksudmu? Kau kalau mau ngobrol ya tinggal ngomong saja, aku dengar kok tapi aku tidak menjamin mau menemanimu ngobrol. Sebentar ya.”. “maaf tangan kiri” kusambut HP ku dari tangan windi dan tak sengaja tanganku menyentuh telapak tangannya,  windi terkejut “eh! Axel....Apa maksudmu barusan? Jangan curi – curi kesempatan kau ya xel aku tidak suka dengan caramu”. “ Tidak, tidak aku tidak sengaja jangan menangis dong...aduh...maaf aku benar – benar tidak sengaja”. “terserah”. Windi masih saja mengusapi air matanya yang membasahi pipi, aku merasa bersalah walaupun aku tidak sengaja menyentuh telapak tangannya. Sampai malam tiba aku tidak melakukan apa – apa selain mengusap – usap layar HP ku membaca beberapa pesan dukungan dari teman -  teman kepadaku, wah ternyata banyak yang peduli denganku. Disaat makan malam, windi kembali menyiapkan makanan yang biasa kumakan bukan makanan dari rumah sakit pastinya, tanpa kumintai tolong dia sudah duduk di sisi badanku untuk menyuapiku makan, dia masih terus diam tanpa mengucapkan sepatah katapun kepadaku. “Win, aku minta maaf ya yang tadi aku benar – benar tidak sengaja”. “Iya”.  Windi meyuapiku dengan lembut dan setelah selesai makan ia langsung meyiapkan obat untukku. “Win tidak usah repot – repot nanti aku yang ambil sendiri”. Windi mengabaikanku sambil terus melanjutkan kegiatannya. “ini obatmu cepat diminum. Tunggu apalagi?”. “minumnya belum kau kasih win”. “oh iya iya maaf – maaf”.
                Saat tengah malam tiba – tiba windi berlari ke arahku sambil berteriak “Hantu!!” sontak aku terbangun dari tidurku dan terkejut. “Kenapa? Ada apa?”. “Itu...itu lo ada hantu tadi aku lihat di kamar mandi”. “Hantu apa sih? Di tempat seperti ini mana ada hantu”. “ah kau ini kalau tidak percaya lihat saja sendiri, tirainya bergerak sendiri”. “ yasudah ikut di belakangku pegang saja bajuku kalau kau takut, tolong pegang botol infusku”. Windi masih saja meringkuk di belakangku “Mana?mana hantunya?”. “Itu....di kamar mandi itu ah kau ini “. “Oke, woy hantu sialan! Jangan ganggu pacarku ya, kau kira aku takut denganmu?” teriakku kearah kamar mandi, tiba – tiba tirai bergerak sendiri dan loncatlah seekor kucing dari baliknya. Aku reflek membalikkan badanku sedangkan Windi tiba – tiba memelukku, aku diam karena terkejut windi pun diam karena takut untuk beberapa saat. “Mbak mbak permisi mbak, kucingnya sudah pergi yang tadi bukan hantu” windi pun terkejut karena memelukku ketika ia perlahan membuka matanya tiba – tiba ia mendorongku daan mebuatkuku terjengkang bersama botol infusku, karena benturan dengan pintu kamar mandi tanganku mengeluarkan darah yang cukup banyak akupun hanya meringis menahan rasa sakitnya. “Adu Axel! Maaf – maaf aku tidak sengaja mendorongmu habisnya aku kaget tadi kau juga kenapa sih menyebutku pacarmu kan kita cuma teman”. “sudahlah ! tak perlu kau bantu aku bisa bangun sendiri” kudiamkan windi sambil berlalu kembali ke tempat tidurku. “ Xel, Axel! Maafkan aku, aku tidak sengaja aku kaget karena tiba – tiba kau memelukku”. “Apa?maksudnya? siapa yang memelukmu ha? Tangan siapa yang melingkar di badanku tadi? Apa tanganku menyentuhmu sedikit saja?tidak kan. Aku bahkan merentangkan tanganku supaya aku tidak membuatmu marah, kau lupa ya saudari WINDI AMIRA?”. Windi terdiam, mungkin ia baru ingat kalau dia yang memelukku dan  bukan seperti yang dia katakan sebelumnya “Pangilkan aku dokter, suster atau siapalah yang bisa membantuku untuk mengobati luka ini perbanku sudah merah semua karena darah ini”. Susterpun datang dan kesal dengan apa yang dia lihat karena lukaku ini disebabkan oleh bahan kimia jadi membutuhkan penanganan khusus untuk merawatnya supaya segera plih, justru sekarang menjadi kembali seperti semula kondisinya. “ Ada lagi pak yang bisa kami bantu untuk bapak?” tanya suster itu padaku setelah selesai mengurusi lukaku. “Tidak suster,sudah cukup dan terimakasih sudah membantu saya” suster pun pergi dari ruangan kami.
                “Xel...Axel, kau masih marah?”. “ hem”. “Xel...maaf ya jangan tuntut aku, aku takut”. “pfffft hahaha kau masih memikirkan itu ya?” seketika moodku berubah mendengar peraktaan yang keluar dari seorang windi dengan muka polos itu. “kok kau ketawa sih? Kau mengejekku ya?”. “eh jangan nanis lagi dong aduh gimana sih”. “habisnya...aku takut  kalau tidak bisa sekolah lagi dan mengecawakan ibuku”. “iyaaa aku tidak akan menuntutmu...tenang saja”. “Serius? Iya? Yeeeey makasih ya xel”. Seketika wanita yang menangis itu kembali tersenyum. “Xel aku mau tanya, waktu kita ketemu di gerbang saat pulang sekolah, kau mengikutiku ya?”. “ em.... tidak juga”. “ Lalu Untuk apa?”. “ tidak apa – apa, aku suka saja menunggu di gerbang sekolah”. “ mau ngaku atau kulukai lagi?”. “waduh santai dong buk, iya – iya aku sengaja pulang sekolah menunggumu karena aku suk...”. “apa?lanjutkan”. “karena....aku ...aku..aku suka melihat pemandangan dsekolah dari gerbang dan kebetulan saja kau lewat”. “halah gajelas aku tau kau bohong, sudah dari kapan kau begitu?”. “sejak kelas 10”. “ setiap hari?”. “iya, oh iya kenapa kau bisa tau kalau aku yang memberikan payung itu ?”. “ yaaaa mudah saja, orang aneh macam apa yang menulis namanya di payung menggunakan Tipe – X?aneh dan tidak kreatif sekali. Jelas tertulis axe –L”. “ oh iya ya? Aku malah lupa kalau aku pernah menulis namaku di payung, tapi kau senang kan karena bisa pulang tanpa kehujanan?”. “ awalnya sih senang, tp selanjutnya tidak”. Awalnya windi hanya berdiri di sisi ranjangku seiring berjalannya pembicaraan ia mulai duduk di ranjangku . “win, sebenarnya apa salahku padamu sampai kau tidak ingin dekat denganku? Beritahu aku supaya aku bisa memperbaikinya”. “Tidak, kau tidak akan bisa. Bahkan dengan semua harta orangtuamu itu kau tidak akan bisa.” Kulihat windi menahan tangisnya saat menundukkan kepala. “maksdunya? Kenapa? Atau aku harus memui ayahmu untuk meminta maaf kepadanya supaya kau tidak membenciku lagi?”.  Tiba – tiba “plak!” windi menamparku dengan sekuat tenaga, aku terdiam dan dia terdiam “berhenti membuat omong kosong, kau tidak bisa melakukannya”. “kenapa aku hanya perlu menemui ayahmu kan hitung – hitung bersilaturahmi”. Dan sekali lagi “plak!”, aku tak tahu kenapa setiap aku menyebut kata ayah ia memberiku satu tamparan dipipiku. “kau kenapa? Kemarin malam kau juga mengigau menyebut ayahmu, ayolah menamparku berkali – kali tidak akan membuatku berhenti untuk menanyakan ini, tidak enak sekali jika menjalani hidup dengan dibenci orang lain”. “kau tahu kesalahanmu? Kau jahat! Ayahmu jahat!ibumu jahat!keluargamu jahat Axel!” ia berteriak sambil memukuli dadaku yang kutahan sebisaku menggunakan tanganku, “Windi!windi! hey! Tenanglah, jelaskan kepadaku”. “Kalian jahat, karena kalian ibuku harus menjadi tulang punggung keluarga, karena keluargamu aku harus bersekolah sambil bekerja, karena keluargamu aku tidak bisa bertemu dengan ayahku lagi, karena keluargamu....karena ...karena keluargamu ayahku meninggal!” windi menangis lebih kencang dan seketika lemas serta meringkuk di hadapanku, mungkin tenaganya sudah habis karena meluapkan semua yang ia pendam selama ini. kuusap kepalanya, “Windi, hey.. windi dengarkan aku. Aku tidak tahu kalau salah satu karyawan ayahku yang mengalami kecelakaan kerja itu ayahmu, tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi. Hey, windi kau dengar aku?”. Windi mengangguk masih dengan napasnya yang tersengal. “maafkan keluargaku , biarkan aku menebus kesalahan keluargaku dan tinggal lah bersama kami, keluargaku yang akan membiayai sekolahmu begitu juga ibumu biar kami yang menanggung biaya hidupnya sehingga kau tak perlu lagi bekerja dan bisa fokus dengan sekolahmu” belakangan aku tahu kalau windi bekerja paruh waktu sebagai pelayan restaurant dan mengajar les privat untuk anak SD. “tapi kan, ayah dan ibumu tidak mengetahui in  aku tidak mau mebebani keluarga kalian”. “gampang nanti aku yang urus, aku pewaris tunggal di keluarga ini kalaupun ayah dan ibuku tidak setuju aku masih bisa membiayai kebutuhanmu dengan uang hasil kerjaku”. “kau bekerja?”. “Iya, aku Gamer Profesional seperti yang Franklin katakan kemarin, sebentar ya sekarang lepaskan dulu tanganku erat sekali kau memegangnya”. “ Eh iya maaf”. Tak lama setelah itu aku menelpon kedua orangtuaku dan menceritakan semuanya, ayahku pun setuju dan mengangkat Windi menjadi anak angkatnya, otomatis windi sekarang adalah adik angkatku, makin rumit bukan? Aku harus menganggap orang yang kusukai sebagai adikku sendiri.
                Tak lama setelah kejadian itu aku sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, meskipun bekas luka bakar akibat bahan kimia belum sepenuhnya hilang setidaknya aku tidak perlu berbaring di rumah sakit lagi. Windi mengantarku pulang kerumah dan kami membuat perjanjian jangan sampai ada yang tahu kalau kami sekarang tinggal satu rumah. Kini terjawab sudah apa yang selama ini membuat Windi sangat membenciku, beberapa tahun lalu memang ada karyawan ayahku yang mengalami kecelakaan kerja, tapi aku tidak tahu kalau karyawan itu adalah ayahnya Windi.

Comments