Basketku Dimulai (1)


                Di setiap hari sabtu sekolah kami memiliki program yang disebut dengan “Pengembangan Diri” ya tentu saja sesuai dengan namanya program ini bertujuan untuk mengembangkan bakat – bakat yang dimiliki oleh seluruh siswa yang ada disekolah kami. Kami wajib memilih minimal 1 jenis pengembangan diri yang akan kami dalami. Tentu saja aku memilih basket, mungkin akan ada yang bertanya kenapa aku tidak memilih sepakbola, katanya menggilai katanya mencintai tapikok diinggalkan. Oh engaak...tenang aku tidak meninggalkannya, setelah bermain basket biasanya aku menyelinap ke klub sepakbola untuk sekedar bermain atau menonton mereka bermain.
                Di hari pertama kami mengikuti program ini yah seperti kebanyakan klub pada umumnya, pendataan anggota lama dan anggota baru, sambutan dari beberapa senior dengan sedikit penjelasan mengenai peraturan dan permainan Bola Basket. Tidak hanya Ricko yang ada di tim ini (tim junior) masih ada beberapa siswa baru lain yang mengikuti, antara lain Tedi , Verindo dan Yoga. Yang kutahu waktu itu hanya mereka karena mereka berdua satu sekolah denganku disekolah dasar. Kalian pasti tahu didalam basket tinggi badan memegang peranan penting dalam menguasai permainan, dan waktu itu Aku dan Ricko termasuk kedalam anggota tim yang terbilang tidak tinggi, berbeda dengan verindo dan tedi yang memang lebih tinggi beberapa sentimeter dari kami. Banyak sekali teman yang mengajakku untuk bergabung dengan tim sepak bola atau futsal dan kebanyakan mereka adalah orang – orang dari sekolahku ataupun dari sekolah lain yang pernah bertemu denganku di lapangan ketika menjadi lawan maupun menjadi kawan saat disekolah dasar.
                Dengan tubuhku yang tidak begitu tinggi benar saja, banyak yang menganggap bahwa kami tidak kompeten dalam hal ini. Tapi diantara anak baru yang lainnya mungkin aku yang paling lama mengenal basket, teknik dasar dalam mengoper, menggiring dan menembak sudah pernah kupelajari disaat bermain bersama ayahku. Aku sudah pernah bercerita bukan? Aku dulu sangat mudah mengingat sesuatu dan itu sangat membantu ketika aku mempelajari tenis meja, basket, bulutangkis dan permainan – permainan lain. Hampir semua olahraga kucoba ya hanya untuk menikmatinya saja. Didalam tim junior yang berisi anak – anak kelas satu tidak tahu kenapa Aku dan Ricko mendapat posisi yang sama lagi yaitu sebagai Power Forward , tentu saja kami adalah power forward dengan postur paling kecil diantara tingkatan tim basket disekolah kami. Tim basket ini sudah memiliki nama yang ckukup harum, karena beberapa tahun terakhir tidak pernah absen mengirimkan anggotanya menjadi perwakilan dalam turnamen bola basket se- provinsi untuk mewakili daerah kami. Sebelum aku masuk ke tim ini aku sama sekali tidak mengetahui sejarah dari tim ini, bahkam aku memilih tim ini bukan karena prestasinya tapi karena aku menyukai basket. Bahkan aku tidak peduli jika tim ini belum berprestasi pun aku akan tetap memilih tim ini. huhuhu. Sangat berbeda dengan tedi yang diberikan kepercayaan sebagai Point Guard   karena dalam perkembangan kami dialah Shooter terbaik di tim junior ini bahkan mungkin di seluruh tim yang ada disekolah ini, Verindo sebagai Center bersama Yoga jelas sekali Center adalah pengaman Ring Basket dari bola Rebound  dengan postur mereka yang tinggi dan besar mereka tak terkalahkan dibawah Ring basket ,jelas saja Ring kami akan aman bersama mereka.
                Istilah “Sekolah adalah Rumah Kedua” benar adanya dan kubuktikan langsung disekolah ini, senin sampai sabtu aku mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti biasa dan sesudahnya di hari Senin, selasa, rabu dan minggu pukul 14.30 sampai pukul 17.00 di sore hari aku berlatih basket dengan teman – temanku, di hari Sabtu aku berlatih PMR hanya di hari jumat  sore saja aku tidak kesekolah karena lapangan basket digunakan untuk berlatih Pramuka.Apakah ini gila ? tidak, tidak mungkin ini tidak gila. Usia kami baru 13 tahun dan kami memaksa tubuh kami untuk berkembang lebih cepat secara fisik tanpa didampingi pelatih pribadi, kami hanya mengembangkan sendiri teknik yang kami pellajari disekolah melalui pengembangan diri. Aku dan Ricko adalah orang yang paling sering bermain bersama bahkan kami pernah berlatih hanya berdua saja demi menutupi kekurangan tinggi badan kami, kami harus memiliki kemampuan melebihi atau setidaknya setara dengan senior – senior kami. Di jenjang sekolah ada turnamen tahunan yang diadakan oleh pemerintah, O2SN namanya. Dimana berisi turnamen bidang olahraga dan seni, sistemnya bertahap dari mulai Kecamatan, Kabupaten,Provinsi dan nasional. Juara 1 dari setiap tingkat daerah berhak menuju tingkat perlombaan yang lebih tinggi. Di tahun pertama Aku dan Ricko tidak masuk kedalam tim yang ikut berpartisipasi dalam event tahunan ini, yah mungkin alasannya kami belum berkembang dengan baik, sedangkan Tedi, Yoga dan Verin langsung masuk ke tim inti di tahun pertamanya. Kecewa ? sedikit... ini adalah pertama kalinya aku merasakan kegagalan untuk mendapatkan apa yang aku mau dan aku belum mampu bersaing menjadi yang terbaik diantara mereka. Tapi tidak apa – apa ini baru dimulai, pada event kali ini tim kami kembali mendapatkan juara kedua setelah Kalah dari Tim Ibukota kabupaten, ini adalah gelar juara 2 yang ke 3 secara beruntun untuk sekolah kami, tim ini menyebut mereka sebagai tim O2SN 96 karena diisi oleh seluruh pemain yang lahir di tahun 1996. kami tahu mereka kecewa dari raut wajah mereka ketika kembali berlatih bersama tim di hari sabtu, tapi itu tidak bertahan lama dan kami tetap senang karena salah satu dari mereka yang berpartisipasi terpilih sebagai pemain terbaik di tim kami sehingga tetap masih ada perwakilan dari sekolah kami untuk mengikuti event di tingkat Provinsi. Disela – sela latihan aku dan Ricko sedikit terheran kenapa kami bisa kalah padahal kami memiliki Tim yang sempurna, postur tubuh yang baik, teknik dasar yang baik, kerja keras, kegigihan dan doa. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana sebenarnya bagaimana buasnya tim yang mereka hadapi di final. Setelah pembicaraan itu selesai Aku dan Ricko pulang bersama dan ditengah perjalan Ricko mengatakan ini didekat kepalaku dengan aksen Singkut City mungkin supaya aku ingat terus. Hahaha. “ Kau Ingat ini baek – baek, kito tahun depan harus masuk O2SN. Kito sudah latihan terus kau pegang omongan aku kito tahun depan juara dak ado kato idak” aku hanya bisa tertawa sambil menjawab “Iyolah co, jangan idak. Kasih nian...!” aku kembali tertawa diapun juga ikut tertawa sambil berkata “waiyo co kasih nian....!” padahal kami belum tahu apa yang akan kami “Kasih Nian”. Hahahaha.  Kami bermimpi bersama, berjanji bersama dan berlatih bersama demi mewujudkan apa yang sudah menjadi keinginan kami tidak perduli sekeras apapun kami berlatih dn entah sudah berapa ratus ribu doa yang kami ucapkan demi impian kami. Oh iya, selain Tedi , verindo dan Yoga. Bimo juga sudah masuk kedalam tim voli disekolah kami sejak tahun pertama, ya tentu saja bakat yang dia miliki yang mengantarkannya kesana. Mereka kembali dengan seragam yang masih basah hasil dari keringat mereka dalam berjuang demi nama baik daerah kami, apalah daya mungkin ini bukan tahun terbaik kami.
                Tahun pertamaku disekolah ini  oh tidak maksudku tahun pertamaku dirumah ini sangat luar biasa, aku memiliki banyak sekali teman baru dan aku memiliki salah satu hal terpenting dalam perjalanan hidup, yaitu beberapa sahabat yang selalu mendukung hal – hal baik dalam hidupku. Tahun pertama kulewati dengan luar biasa, Aku menikmati semua hal yang aku sukai, aku melakukan apapun yang aku inginkan, dan aku menjadi satu – satunya siswa yang menjadi  juara kelas disaat semua kelas “dikuasai”oleh siswi – siswi yang jauh lebih rajin dariku. Orang – orang menjadi lebiih mengenalku karena pencapaianku selain karena aktif di beberapa olahraga dan organisasi disekolah. Aku mendapatkan kegagalan pertamaku dalam hidup yang membuatku belajar lebih banyak lagi. Kegagalan adalah perebut impianmu, maka coba sekali lagi dan rebut kembali impianmu dari kegagalan itu demi dirimu. Aku bukanlah orang yang rajin belajar sebenarnya, aku hanya belajar 1 jam tiap hari. Hanya saja menjelang ujian aku menjadi Penghafal yang ulung, sebuah kesalahan besar yang kubawa kemana – mana. Beberapa guru bertanya siapa aku, karena sangat jarang siswa berada diposisiku yang biasanya diisi oleh siswi yang pendiam, rajin belajar, hanya aktif dikelas. Sedangkan aku ? mungkin bisa disebut “Barbar” karena apapun disekolah itu kucoba, ya tentu saja aku menjawab aku adalah anak dari ayahku. Beberapa guru senior berkata “oalah....wajar” aku tidak paham kenapa mereka berkata seperti itu dan bertanya “kok wajar pak?” seorang guru yang usianya sudah cukup tua aku sangat ingat dia duduk di sudut kantor yang tidak jauh dariku sembari menghisap rokoknya Pak Suparno namanya tapi dia meniggal dunia saat aku kelas 2 SMP, semoga Allah menempatkan beliau di tempat terbaik disisi – Nya. Beliau berkata “ Lha Bapakmu itu murid kesayanganku dulu, bapakmu dulu juara umum terus pas terima raport” . Aku kagum? Tentu saja, ternyata ayahku adalah anak yang dikenang sebagai anak yang baik disekolahnya meskipun ayahku sangat suka berkelahi hanya untuk melepas rasa penatnya setelah bekerja demi mendapatkan uang jajan dan uang untuk membayar biaya sekolah. Apa ayahku pernah cerita bagian ini kepadaku? Hampir tidak, karena ayahku lebih sering bercerita bagaimana dia bekerja keras demi membiayai sekolahnya, pencapaiannya disekolah tidak pernah diceritakannya sampai aku menanyakan hal ini kepada ayahku. Mungkin ayahku ingin aku lebih bersyukur dan lebih semangat karena semua fasilitas sudah disediakan untukku,sangat berbeda 180° dari ayahku yang serba kekurangan tapi mampu bertahan bahkan menjadi yang terbaik dan lagipula akupun tak berniat “mengkhianati” ini semua dengan bermalas – malasan. Aku hanya menjadi juara kelas, bukan menjadi juara disekolah ini. Aku dan Ricko melanjutkan ke kelas 2 SMP, meski teman sekelas kami semuanya berubah mungkin kami memang ditakdirkan bersama, kami kembali masuk di kelas yang sama namun kali ni kami dimasukkan ke kelas Unggulan padahal ya menurutku kami tidak begitu unggul. Hahaha. Tentu saja kami kembali duduk bersama.

Comments