Basketku Dimulai (2)
Semester
baru telah dimulai, di kelas 2 ini aku lebih bersemangat dari tahun lalu. Seperti
biasa ritual yang dijalani setiap anak sebelum memasuki semester baru adalah
mendengarkan kata sambutan terlebih dahulu di meja makan dari kedua panglima
tertinggi dirumah masiing – masing yaitu ayah dan ibu. setelah dirasa cukup,
aku bergegas berangkat ke sekolah mengendarai motor hasil Give Away dari ayah dan ibuku. Ayah dan ibuku menerapkan sistem Reward and Punishment dirumah, jadi
setiap usaha akan diberi hadiah tersendiri dan segala kesalahan memiliki
hukumannya masing – masing, ketika salah hukuman yang paling ringan yang pernah
kuterima adalah menyapu rumah menggantikan tugas ibuku, katanya sih supaya aku
merasakan bagaimana membersihkan rumah saja. Hehehe yang terberat adalah
penyitaan Handphone ya itupun karena di mid semester sedikit bersantai sehingga
nilaiku agak kurang memuaskan. Hahaha. Tak pernah ada tindak kekerasan atas
semua kesalahan sebesar apapun itu, justru ketika aku dianggap sudah melampaui
batas ayahku hanya mengajakku berbicara berdua layaknya guru yang mengintrogasi
murid yang bermasalah. Percayalah, lebih baik dipukul sekali daripada duduk di
kursi pesakitan dan dicerca berbagai macam pertanyaan seputar sekolah dan
pergaulanku. Akan banyak sekali pertanyannya, misalnya aku belajar berapa lama
dan sejauh mana aku tepat waktu, kemana saja aku di sore hari ketika latihan,
siapa saja teman bermainku, siapa pacarku, dan banyak pertanyaan aneh lainnya. Aku
ingin bercerita sedikit, hadiah dari juara kelasku di kelas yang lalu adalah
handphone dan sepatu basket, itupun aku salah membeli sepatu bukannya membeli
sepatu basket justru aku membeli sepatu untuk olahraga lari, ayahku tidak
menertawakanku walaupun sebelum berangkat membeli sepatu aku dengan yakin menjawab pertanyaan ayahku dengan percaya
diri “tenang, eka tahu kok bentuk sepatunya”. Haha sudah yakin sekali tapi
salah membeli. Mungkin dengan cara itu aku di didik oleh kedua orangtuaku bahwa
untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan kita harus bekerja keras.
Memasuki
kelas baru sebagian besar temanku adalah teman yang berbeda dari tahun lalu,
kembali beradaptasi dikelas yang katanya unggulan ini. wah benar saja aku
merasa aku adalah anak yang biasa – biasa saja diantara anak – anak rajin dan
jenius disekolah kami. Hahaha. Tapi justru dikelas inilah aku mendapatkan
banyak sahabat baru, sebut saja Bibah, Ayu, Tusi, Linda, Siti, Bella, Puput,
Tias, Tika dan Fella. tika adalah bibik dari Fella, mereka adalah murid
pindahan yang masuk di pertengahan semester satu. jangan heran kenapa sahabatku perempuan semua, ya itu karena dikelas kami hanya ada 10 laki - laki saja. Kami langsung akrab karena
aku dan tika adalah teman disaat sekolah dasar. Aku dipilih menjadi ketua kelas
dikelas ini, dan yaaaa seperti biasa aku menjalankan tugas ketua kelas
sebagaimana umumnya. kadang kalau sedang iseng aku mencatat orang - orang yang ribut, padahal aku tidak melaporkan kepada guru. aku hanya suka saja melihat ekspresi mereka ketika aku menyebut namanya dan berpura - pura menulis namanya. Adalagi satu orang laki – laki yang menjadi sahabatku
yaitu Ian, dia juga anak dari teman ayahku. Tidak usah heran karena dimanapun
duduk selalu ada saja anak dari teman ayahku. Bahkan sahabat – sahabat yang
kusebutkan itu tadi ayahku kenal dengan orangtua mereka. Nanti kita bahas mereka.
Semester baru adalah semangat baru untuk semua hal, belajar,basket dan kegiatan
lainnya. Dikelas ini aku tak lagi menjadi juara kelas, apa aku sedih? Tidak,
aku santuy saja hahaha. Malah ibuku yang tidak bisa santuy, kurasa mendapatkan
juara 3 dikelas ini bukanlah sesuatu yang buruk dan lagi...pelajaran berharga
kembali datang kepadaku.
Setiap sore aku masih berlatih basket dengan tim basket sekolahku, ada beberapa kejadian unik yang kuingat selama latihan. Yang pertama, adalah tragedi Headshot. Tedi adalah top shooter disekolahku, dan dia sengaja berbuat jahil kepada Verindo. Dia sengaja mengarahkan Passing kepada verindo saat verindo membelakanginya, didalam basket ada teknik dasar chess Pass yaitu mengoper bola didepan dada. Kala itu tedi melempar dengan sangat kuat dan sengaja memanggil verindo supaya menoleh kebelakang. Yah tepat sekali, tepat di kepala spontan verindo terhuyung terkena lemparan itu. Sebenarnya kalau tidak dipanggil verindo tidak akan terkena lemparan itu, memang tedi sengaja saja supaya tepat Headshot mungkin tedi adalah pemegang rekor Three Point Shoot terbanyak diantara kami semua. Yang kedua adalah ketika kami latihan untuk seleksi masuk tim 02SN di tahun kedua kami. Lagi dan lagi verindo berulah, latihan dimulai pukul 14.30 disaat kami sudah melakukan semua pemanasan dan mulai untuk latihan strategi, verindo baru menampakkan batang hidungnya, terlambat 1 jam dan dihukum berlari mengelilingi lapangan basket sebanyak 10 kali. Disaat kami sudah basah dengan keringat dengan sombongnya dia berkata kepada kami “ayo woy ! lemah nian baru berapo kali putaran sudah bengek” sambil tertawa, dan tahukah kalian ? baru masuk putaran kedua dia sudah tidak sanggup lalu muntah, mukanya pucat, keringatnya banyak sekali. Ternyata dia baru saja makan siang. Sedikit tips untuk kalian yang kepepet, usahakan berolahraga minimal 1 jam sesudah makan karena tubuh perlu mengolah makanan yang kita makan terlebih dahulu supaya metabolisme dapat berjalan dengan baik. Alhasil dia menjadi lelucon selama seminggu penuh setiap latihan. Selain cerita konyol diatas, ada beberapa cerita yang menurutku salah satu yang perlu kuingat sepanjang hidupku. Yaitu ketika aku berhasil memblok tembakan verindo dengan selisih tinggi badan yang cukup signifikan semestinya dia bisa leluasa menembak, selain itu saat seleksi aku berhasil melewati penjagaan dari pelatihku yang tinggi badannya saja selisih 20cm denganku untuk melakukan Lay Up . semua latihan berat pasti memiliki dampak signifikan kepada tubuh kami, bagi yang tidak mampu menahan tekanan ini tentu saja dapat cidera, yah salah satunya adalah Aku dan Ricko, menjelang seleksi tim inti, aku mengalami cidera pergelangan kaki kiri, tentu saja pelatih tidak akan membawa pemain yang cidera untuk ikut. Dalam waktu seminggu aku harus bisa pulih, begitu juga dengan Ricko, ia mengalami cidera siku. Akhirnya hari itu tiba, semua tes sudah ada di depan mata dari Dribling, passing, shooting, dan permainan beregu. Dengan cidera yang masih terasa, dan permintaan orangtuaku yang meminta untuk tidak melanjutkan hal ini aku tetap berangkat mengikuti seleksi . karena ini adalah kesempatan terakhir kami untuk bisa ikut berpartisipasi, dalam aturan O2SN ditetapkan batasan usia dan di tahun ketiga usiaku sudah diluar aturan jadi mau tidak mau, bisa tidak bisa, mampu tidak mampu suka dan tidak suka aku harus lolos di tahun ini dengan cara apapun atau impianku dan ricko untuk menjuarai turnamen ini akan sia – sia . setelah semua tes telah usai , pelatih dan guru olahraga kami mengumumkan siapa saja yang ikut bergabung, dalam turnamen ini ditetapkan peraturan pertandingan 3 on 3 tiap pertandingan kecuali di tingkat provinsi dan nasional akan berlaku Full team 5 lawan 5 . sekolah kami hanya membawa 6 pemain yaitu aku dan Ricko sebagai Power Forward sekaligus Point Guard, Akbar dan Pahala sebagai Center, dan yang teakhir adalah Aldo sebagai Small Forward . posisi tim dapat berubah – ubah sesuai komdisi permainan kecuali posisi center . lalu kemana Tedi,Verindo dan Yoga yang sudah berpengalaman dalam turnamen ini ? ya, mereka terbentur aturan batas usia O2SN mereka lahir di akhir tahun 1996 dan tidak bisa ikut dalam turnamen ini. Aku kembali kerumah dengan kepuasan dan kebanggaan dipundakku dan menceritakan semuanya kepada orangtuaku, sekali lagi selain ucapan selamat ada nada penolakan atas pencapaian ini. ibuku berkata “kalau sampai satu hari menjelang turnamen kamu belum sembuh, tidak usah ikut turnamen. Istirahat dirumah” padahal seminggu lagi kami bermain. Selama seminggu sebelum bermain aku tidak mengikuti latihan seperti teman – teman yang lain dan fokus untuk memulihkan cideraku. Aku bersyukur Allah memberikan kesempatan untuk mengikuti turnamen ini sampai waktunya tiba aku pulih sepenuhnya.
Setiap sore aku masih berlatih basket dengan tim basket sekolahku, ada beberapa kejadian unik yang kuingat selama latihan. Yang pertama, adalah tragedi Headshot. Tedi adalah top shooter disekolahku, dan dia sengaja berbuat jahil kepada Verindo. Dia sengaja mengarahkan Passing kepada verindo saat verindo membelakanginya, didalam basket ada teknik dasar chess Pass yaitu mengoper bola didepan dada. Kala itu tedi melempar dengan sangat kuat dan sengaja memanggil verindo supaya menoleh kebelakang. Yah tepat sekali, tepat di kepala spontan verindo terhuyung terkena lemparan itu. Sebenarnya kalau tidak dipanggil verindo tidak akan terkena lemparan itu, memang tedi sengaja saja supaya tepat Headshot mungkin tedi adalah pemegang rekor Three Point Shoot terbanyak diantara kami semua. Yang kedua adalah ketika kami latihan untuk seleksi masuk tim 02SN di tahun kedua kami. Lagi dan lagi verindo berulah, latihan dimulai pukul 14.30 disaat kami sudah melakukan semua pemanasan dan mulai untuk latihan strategi, verindo baru menampakkan batang hidungnya, terlambat 1 jam dan dihukum berlari mengelilingi lapangan basket sebanyak 10 kali. Disaat kami sudah basah dengan keringat dengan sombongnya dia berkata kepada kami “ayo woy ! lemah nian baru berapo kali putaran sudah bengek” sambil tertawa, dan tahukah kalian ? baru masuk putaran kedua dia sudah tidak sanggup lalu muntah, mukanya pucat, keringatnya banyak sekali. Ternyata dia baru saja makan siang. Sedikit tips untuk kalian yang kepepet, usahakan berolahraga minimal 1 jam sesudah makan karena tubuh perlu mengolah makanan yang kita makan terlebih dahulu supaya metabolisme dapat berjalan dengan baik. Alhasil dia menjadi lelucon selama seminggu penuh setiap latihan. Selain cerita konyol diatas, ada beberapa cerita yang menurutku salah satu yang perlu kuingat sepanjang hidupku. Yaitu ketika aku berhasil memblok tembakan verindo dengan selisih tinggi badan yang cukup signifikan semestinya dia bisa leluasa menembak, selain itu saat seleksi aku berhasil melewati penjagaan dari pelatihku yang tinggi badannya saja selisih 20cm denganku untuk melakukan Lay Up . semua latihan berat pasti memiliki dampak signifikan kepada tubuh kami, bagi yang tidak mampu menahan tekanan ini tentu saja dapat cidera, yah salah satunya adalah Aku dan Ricko, menjelang seleksi tim inti, aku mengalami cidera pergelangan kaki kiri, tentu saja pelatih tidak akan membawa pemain yang cidera untuk ikut. Dalam waktu seminggu aku harus bisa pulih, begitu juga dengan Ricko, ia mengalami cidera siku. Akhirnya hari itu tiba, semua tes sudah ada di depan mata dari Dribling, passing, shooting, dan permainan beregu. Dengan cidera yang masih terasa, dan permintaan orangtuaku yang meminta untuk tidak melanjutkan hal ini aku tetap berangkat mengikuti seleksi . karena ini adalah kesempatan terakhir kami untuk bisa ikut berpartisipasi, dalam aturan O2SN ditetapkan batasan usia dan di tahun ketiga usiaku sudah diluar aturan jadi mau tidak mau, bisa tidak bisa, mampu tidak mampu suka dan tidak suka aku harus lolos di tahun ini dengan cara apapun atau impianku dan ricko untuk menjuarai turnamen ini akan sia – sia . setelah semua tes telah usai , pelatih dan guru olahraga kami mengumumkan siapa saja yang ikut bergabung, dalam turnamen ini ditetapkan peraturan pertandingan 3 on 3 tiap pertandingan kecuali di tingkat provinsi dan nasional akan berlaku Full team 5 lawan 5 . sekolah kami hanya membawa 6 pemain yaitu aku dan Ricko sebagai Power Forward sekaligus Point Guard, Akbar dan Pahala sebagai Center, dan yang teakhir adalah Aldo sebagai Small Forward . posisi tim dapat berubah – ubah sesuai komdisi permainan kecuali posisi center . lalu kemana Tedi,Verindo dan Yoga yang sudah berpengalaman dalam turnamen ini ? ya, mereka terbentur aturan batas usia O2SN mereka lahir di akhir tahun 1996 dan tidak bisa ikut dalam turnamen ini. Aku kembali kerumah dengan kepuasan dan kebanggaan dipundakku dan menceritakan semuanya kepada orangtuaku, sekali lagi selain ucapan selamat ada nada penolakan atas pencapaian ini. ibuku berkata “kalau sampai satu hari menjelang turnamen kamu belum sembuh, tidak usah ikut turnamen. Istirahat dirumah” padahal seminggu lagi kami bermain. Selama seminggu sebelum bermain aku tidak mengikuti latihan seperti teman – teman yang lain dan fokus untuk memulihkan cideraku. Aku bersyukur Allah memberikan kesempatan untuk mengikuti turnamen ini sampai waktunya tiba aku pulih sepenuhnya.
Di
tingkat kecamatan sekolah kami ditunjuk sebagai penyelenggaranya dan menjadi tuan
rumah, Kami merebut juara pertama cabang basket putra dan putri begitu juga banyak cabang olahraga dan seni lain yang kami juarai. sebenarnya ini adalah
hal yang wajar karena di tingkat ini cabang basket tidak pernah menjadi nomor
2, selalu nomor 1. Selain pencapaian itu yang istimewa adalah kami tidak pernah
kalah, kami menyapu bersih semua pertandingan. Aku dan Ricko tidak sengaja memilih nomor punggung yang berdekatan Aku memilih nomor
punggung 13 sedangkan ricko nomor punggung 12. Ah mungking kami benar – benar ditakdirkan
berdekatan dan tidak bisa dipisahkan. Hahaha. Dengan kepala tegak kami
merayakan kemenangan ini di lapangan yang disaksikan ribuan siswa siswi dari
sekolahku maupun dari sekolah lain yang menonton pertandingan ini. kenikmatan
tersendiri ketika berhasil menjadi jura, dan yang terpenting adalah kau sudah
berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu yang benar – benar kau cintai. Kami diberikan waktu 2
minggu untuk beristirahat menjelang pertandingan di tingkat kabupaten. Dan kami
dibebaskan dari latihan berat yang sering menyiksa kami, sering disiksa tapi
kami menyukainya. Hahaha. Datang sebagai Juara tak terkalahkan membuat semangat
kami berapi – api dan sangat termotivasi untuk memenangkan turnamen
selanjutnya.
Terimakasih sudah membaca,nantikan kelanjutan cerita lainnya ya
ReplyDelete