Basketku Dimulai (Tamat)
Gejolak emosional yang tak kunjung
reda didalam diri ini terbawa sampai kedalam pertandingan, kedua tim berkumpul
di sisi lapangan yang sama untuk bersiap masuk ke lapangan bersama wasit. Kami saling
tatap satu sama lain, ya tentu saja rasanya ingin sekali memasuki Beast Mode dan menjadi lebih ganas di
pertandingan puncak ini. tim basket putri kami sudah mengalami kekalahan di
partai final oleh tim basket putri mereka, jadi kami berniat untuk membalas
kekalahan kami untuk mencegah mereka menawinkan gelar juara cabang basket putra
dan putri yang tahun alu mereka lakukan dihdapan para senior kami. Secar fisik
kami leih baik, dan secara teknik kami jug alebih baik, bahkan jika dilihat
kami juga lebih baik dalam kerjasama
tim. Yang dikepalaku saat ini adalah “kami akan menang! Kammi akan menang! Kami
akan menang!”.
Saat kami bersama – sama memasuki
lapanganseketika tribun penonton bergemuruh, tidak begitu jelas mereka
meneriakkan apa yang jelas aku hanya fokus dengan pertandingan ini. dalam sesi
pemanasan mereka unjuk gigi dengan melatih three point shoot dan kami sedikit
tertegun, karena mereka biasa – biasa saja dan aku berharap tedi saat ini
disini karena pasti dia bisa membungkan mereka sebagai top shooter untuk three
point shoot. Di tepi lapangan pelatih meneriaki kami “woy kamu! Ngapo diam?! Balas
! kasih orangtu 3 point yang sebenarnyo!’’ . seketika kami sadar dan mengambil
posisi three point shoot di 3 sisi berbeda dan benar saja kami bertiga bisa
membalas “Pertunjukan” three point
mereka dengan lebih baik. Suasana semakin tegang, tribun semakin bergemuruh dan
peluit tanda pemanasan selesai telah berbunyi dan kami bersiap melakukan jump ball, aku maju untuk bertarung
memperebutkan bola. “priiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit!” dan semua berjalan begitu
saja, Man Of The Match dalam
pertandingan ini otomatis lolos ke tingkat selanjutnya sebagai perwakilan
daerah kami menuju event provinsi, dan aku menginginkannya. Dalam pertadingan
kami hampir dibuat gila oleh pemain kidal itu sangat sulit menjaganya, tapi
selisih angka terus membesar berkat kejasama apik dari tim kami.
Kibasan jaring bola tak berhenti,
decitan sepatu kami terus menjerit dalam panasnya terik matahari waktu itu,
teriakan penuh semangat menggaung dimana – mana. Hari ini luar biasa sekali. Para
penonton ikut merasakan ketegangan yang kami rasakan, staf pelatih dan seluruh
pemain menginginkan gelar juara ini untuk pertama kali setelah sekian lama
menjadi juara kedua. Kami adalah remaja biasa yang menjalani cerita luar biasa,
kami adalah remaja dari tempat biasa yang memiliki cita – cita luar biasa, kami
adalah anak remaja yang memiliki teman dan keluarga yang luar baisa. Aku ingat
sekali , Ricko bermain jauh lebih baik dari biasanya, kami melakukan “Tos” lebih banyak dari biasanya, aldo
beraksi jauh lebih baik dari biasanya dan kami menjadi lebih liar dari
biasanya. Kami memantaskan diri untuk menjadi pemuncak rantai makanan dalam
cabang basket, semua sudah kami lakukan dengan cara yang luar biasa. Inilah saatnya,
sepajang permainan kami tersenyum, tiap bola yang masuk ke jaring adalah
keindahan tersendiri bagi kami, decitan sepatu hari ni akan menjadi cerita yang
luar biasa di masa mendatang, kami bermandi keringat demi kebahagiaan kami. Pertandingan
berakhir dengan skor mencolok 48-18, hari ni aku luar biasa sepanjang turnamen
aku mencetaak 48 angka dan di pertandingan final pun aku mencetak angka
terbanyak serta didapuk menjadi Man Of
The Match .
Akhirnya hari itu tiba, suka cita
bercampur dengan air mata bahagia dari seluruh pemain dan staf pelatih. Selama 2
tahun bermain basket bersama, baru kali ini aku berpelukan dengan Ricko untuk
merayakan kemenangan kami. Hari ni adalah
pelukan paling erat, senyuman paling bahagia dan lelah yang paling berharga
dalam permainan basketku. Kami pulang dengan juara untuk pertama kalinya bagi
kami. Walaupun tidak mampu mengawinkan gelar bersama tim basket putri tak apa
hari ni adalah hari bahagia untuk semua orang yang mendukung kami, hal pertama yang
dilakukan semua pemain adalah menelpon keluarganya untuk menyampaikan kabar
gembira ini.
2 hari setelah hari itu, disaat
upacara bendera kepala sekolah mengumumkan seluruh gelar juara yang diraih dari
cabang olahraga hingga cabang seni. Semua orang terkejut dengan raihan kami,
dan ini adalah kemenangan tim ekstrakulikuler basket. Sampailah pada pengumuman
anggota tim yang melaju untuk mewakili ke event provinsi. Setelah bergantian dipanggil, sampailah pada cabang
basket putra, semua orang bersorak Aku dan ricko tegak bersebelahan dan sangat yakin
kami akan pergi bersama. Tapi, semua prediksi anggota tim basket salah. Aku adalah
top scorer, Man of the match di final dan
tampil impresif selama turnamen. Tapi
hanya Ricko yang dipanggil untuk mengikuti event tersebut. Ricko terkejut, aku terkejut,dan
seluruh tim terkejut. Aku merasa ada jarak yang besar antara aku dan Ricko
karena hal ini, aku ingin marah tidak tahu kepada siapa harus marah bahkan aku
merasa Ricko jauh pergi meninggalkan basket kami, mungkin aku tidak terbiasa
jika tidak bermain dengannya didalam tim selama dia pergi. Menjelang keberangkatan,
aku berbicara lebih sedikit dari biasanya dengan Ricko, juga tidak ikut dalam
latihan harian dan aku berdiam diri dirumah. Aku tidak marah kepada sahabatku
ataupun iri, aku hanya merasa semua cara yang bisa mengantarkanku kesana sudah
kulakukan dan semua syarat sudah kupenuhi tapi kenapa aku tidak terpilih?. Banyak
pembicaraan yang terjadi di dalam tim basket selama aku tidak mengikuti
latihan, bahkan ada rumor aku keluar dari tim basket karena kecewa dengan
keputusan ini. padahal tidak, aku tetap mencintai tim ini bahkan lebih besar
dari biasanya hanya saja aku sedang tidak ingin bermain basket karena kurasa
aku sudah berakhir disini, ini adalah kesempatan terakhirku untuk bisa
mengikuti kejuaraan yang diimpikan oleh semua pemain basket.
Hari keberangkatan tiba, ricko
berpamitan kepada kami semua disekolah dan kami tentu mengiringi
keberangkatannya dengan doa paling serius dan harapan yang luar biasa tentu
saja Ricko menemuiku untuk berbicara tentang keberangkatan itu, ya aku tentu
bahagi dengan segala pencapaian dan kerja kerasnya untuk tim. Tapi kekecewaan
datang kembali kepadaku, ditengah sibuknya jadwal latihan selama masa karantina
Ricko memberika kabar bahwa sebenarnya namaku ada di daftar pemain bsket putra
saat hari pertama latihan, bahkan pelatih kepala menanyakan keberadaanku dan
alasanku tidak hadir dihari itu, karena dia secara pribadi membicarakan
pemilihanku dengan guru olaraga disekolah kami. Namun di hari kedua latihan,
datang seorang pemain tim ibukota yang bergabung dengan tim tanpa sepengetahuan
pelatih kepala dan ternyata dia adalah
pemamin ‘’Titipan’’ yang ditunjuk menggantikan posisiku didalam tim. Kau
tahu bagaimana hancurnya? kau sudah melakukan segalanya, berusaha sekuat tenaga
dan mengorbankan banyak hal sampai kesehatanmu sendiri, tapi di akhir cerita
kau adalah orang yang sengaja ‘’dibuang’’ demi memuaskan hasrat orang – orang yang
tidak bertanggung jawab. Kekecewaan memberikanku banyak pelajaran bahwa tida
semua hal dapat berjalan sesuai prediksi kita walaupun sudah berusaha dengan
keas, kau ada untuk berjuang. Ketika kau jatuh dunia akan tetap berputar dengan
segala kekejaman dan kabaikannya, waktu akan tetap berlalu meninggalkanmu yang
perlu kau pilih adalah tetap terbaring bersama penyesalanmu atau kau bangkit
dan memulai cerita baru dengan segala sesuatu yang kau cintai. Tim basket Ricko
kalah dalam turnamen itu dan sepulang dari sana, kami memulai cerita baru lagi
sebagai pemain senior di tim ini tentu saja dengan gelar juara yang pernah kami
raih dan perjalalanannya, aku teringat sebuah cerita kartun jepang tentang
basket Kuroko No Basuke dan disitulah aku menemukan istilah “Kiseki No Sedai” untuk tim 97 kami.
Comments
Post a Comment