Bullying (1)
Keesokan harinya aku langsung
masuk kesekolah karena tidak ingin ketinggalan pelajaran lebih jauh lagi,
sebangun dari tidur kulihat kamar wandi masih tertutup dan kucoba untuk
menghampiri kamarnya, niatku sih mengecek apakah dia masih didalam atau sudah
berangkat duluan tapi kuurungkan karena kupikir tidak mungkin Windi belum
bangun sedangkan jam sudah menunjukkan pukul 6.30, waktu dirumah sakit saja dia
sudah siap untuk pergi kesekolah. Aku langsung mandi saja dan bersiap
kesekolah, saat aku selesai mandi dan keluar dari kamar mandi ternyata windi
baru bangun dan langsung teriak “ Axel! Kenapa kau tidak membangunkanku?”
sambil bergegas ia masuk ke kamar mandi, iya kami saling berbagi kamar mandi
karena kamar mandi Windi sedang rusak. Karena aku sudah siap terlebih
dahulu dan menyelesaikan sarapanku aku bergegas menuju sekolah, tak lupa
kutinggalkan 2 potong roti isi di atas meja makan supaya Windi tak repot jika
ingin sarapan. Aku sengaja beragnkat duluan karena sesuai perjanjian kami tidak
ingin ada yang tahu kalau kami sekarang tinggal satu rumah. “Makanlah windi,
aku berangkat duluan” kurang lebih begitulah pesan yang kutulis di secarik
kertas yang kuletakkan disamping roti isi tadi.
Sesampainya
dikelas ternyata semua orang sudah bersiap menyambutku lengkap dengan kue
sebagai ucapan selamat atas kembalinya diriku, banyak sekali hadiah yang
kuterima dari para fans ku disekolah sampai aku kesulitan untuk membawanya
pulang. Di tengah perayaan tadi, akhirnya Windi muncul dan langsung duduk tanpa
memberiku selamat, ya tentu saja kenapa harus repot memberi selamat sedangkan
dialah yang menjagaku selama aku dirawat dirumah sakit, terdengar sayup – sayup
“ Eh Wndi kenapa sih ? kan dia yang bikin Axel celaka kok dia diam saja sih
paling tidak minta maaf lah”. “iya ya dasar tidak tahu malu”. Semua orang
dikelas mulai menjauhi nya bahkan teman – teman yang biasa ia ajak bicara pun
menjaga jarak dengannya, kulihat windi pasrah menerima keadaan itu dan mulai
melakukan semuanya sendiri. Sepanjang hari kulihat Windi hanya diam, tentu saja
karena tak ada yang bisa ia ajak bicara, sebenarya aku ingin sekali
menemaninya tapi karena perjanjian kami , kami tak ingin terlihat mencurigakam
karena sebelumnya windi sangat tidak suka padaku. Sampai akhirnya beberapa
siswi yang tidak suka dengan windi mulai membully nya. Mereka mulai dengan
sindiran – sindiran pedas yang tidak langsung ditujukan kepada Windi, sekali
lagi Windi hanya diam dan tidak mau memberikan penjelasan apapun, kulihat di
sudut kelas ia mengusap air matanya karena merasakan pembullyan itu.
Sepulang
sekolah aku menunggu Windi untuk mengawasinya kalau saja ada yang masih ingin
membully nya, kulihat Windi dengan sudut yang berbeda 180 derajat dari
biasanya, windi yang biasanya selalu plang dengan dua orang sahabatnya dengan
tebaran senyuman manis kini sendirian dengan kepala tertunduk ,untunglah tidak
terjadi apa – apa dan akupun pulang kerumah. Windi sengaja mengggunakan
angkutan umum utnuk pulang sekolah daripada harus pulang bersamaku supaya tidak
ada yang curiga kepada kami, baiklah kuhargai itu semua. Sesampainya dirumah
Windi masih saja murung dan diam saja dikamar, waktu menujukkan jam 2 siang
tapi windi masih juga belum keluar dari kamar padahal sudah saatnya makan
siang, “ Win, Windi...apa kau tidur?sudah waktunya makan siang apa kau tidak
lapar?” tanyaku dari depan pintu kamar windi untuk memastikan dia baik – baik
saja, “ tidak, aku baik – saja kalau kau mau makan silahkan duluan saja”. Aku
tahu dia sedang tidak baik – baik saja dan aku memutuskan menunggunya di depan
pintu kamaar sembari rebahan di sofa “baiklah aku makan duluan ya” jawabku
, padahal aku menunggunya. Tak terasa
ternyata aku ketiduran di sofa dan windi membangunkanku “Xel, Axel kenapa tidur
disini? Kau sudah makan?”. “eh apa? Aduh aku ketiduran disini tadi aku
menunggumu untuk makan siang”. “kan sudah kubilang untuk duluan saja kenapa
menungguku, bukan salahku ya ayam bakar yan diatas meja sudah kuhuabiskan,
karena kupikir kau sudah makan tadi hehe”. “serius? Win...waduh kan itu ayam
kesukaanku, aku belum makan sepotong pun”. “tidak – tidak aku bercanda, itu
masih ada di meja makan mana mungkin aku kuat mneghabiskan semuanya sendiri,
yasudah makanlah sana”. “oke”.
Saat
makan siang kulihat ayam bakar ku masih utuh, sayur pun juga speertinya tidak
berkurang sedikitpun, begitu juga dengan lauk pauknya. Aneh sekali padahal tadi
dia bilang kalau dia sudah makan kok masih utuh semua ya. Baiklah nanti saja
kutanyakan kalau sudah selesai makan, loh ini roti isi tadi pagi yang kusiapkan
untuknya juga tidak disentuh sedikitpun apa dia tidak lihat ya. Sesudah makan
aku kembali ke kamar windi untuk menanyakan hal tadi kepadanya “tok tok tok!”
kuketuk pintu kamrnya “win...apa kau tidur? Aku mau tanya sesuatu”.
“sebentar, ada apa?”. “aku mau tanya,
kau sudah makan?”. “iya sudah, kenapa?”. “kok semua lauk pauk dan sayur masih
utuh?kau bohong ya?”. “tidak aku tidak
bohong, aku memang tidak makan makananmu yang diatas meja itu”. “kenapa?
Kan ayahku sudah bilang kalau kau ini anaknya jadi apapun yang ada dirumah ini
milik bersama”. “bagaimana mungkin aku makan duluan sedangkan yang memiliki
rumah ini saja belum makan, tadi waktu aku ke meja makan kulihat semua masih
utuh padahal kau sendiri yang bilang mau makan, jadinya aku masak telur goreng
saja tadi lalu membangunkanmu”. “kau ini kenapa sih, untuk selanjutnya makan
saja apa yang ada jangan sungkan, dan juga kenapa kau tadi pagi tidak
sarapan?”. “aku sarapan kok”. Kutepuk keningku sendiri mendengar jawabannya
“Roti isi yang kusediakan saja tidak kau makan terus kapan kau sarapannya?”.
“aku sarapan dijalan tadi, kupikir itu punyamu”. “kan sudah kutulis makanlah
windi, memangnya ada windi lain dirumah ini?”. “iya besok kumakan kalau
disiapkan lagi hehe”. “yasudah kalau gitu aku mau main game lagi. Oh iya sebelumnya
kenapa kau diam saja ketika kau di bully dikelas? Padahal kau tingaal bilang
saja kan kalau kau sudah menebus kesalahanmu dengan menjagaku selama dirumah
sakit?”. “eem...kalau masalah itu....” begitulah percakapan kami, tubuh yang berhadap hadapan namun terhalang pintu kamar yang tak ia bukakan untukku, sudah seperti cerita percintaan saja dasar Windi.
Comments
Post a Comment