Windi Amira (1)
Aku
adalah Axel Widjaja, Jenis kelamin Laki – Laki dan Usiaku 17 tahun, dengan
postur tubuh sempurna dengan roti sobek kesukaan wanita sebagai ciri khas tubuh atletis dan tinggi badanku 183cm. Saat ini aku berstatus siswa di
salah satu sekolah SMA Swasta di pusat kota yaitu SMA Yapper. Sekolah nomor
satu di kotaku, isinya tentu saja kebanyakan bukan anak – anak dari kalangan
orang biasa. Contohnya saja Aku, Aku sendiri adalah anak dari pemilik perusahaan
properti yaitu Alex Widjaja yang menikah dengan ibuku saat aku belum ada didunia
ini oleh karena itu aku bilang mereka sombong karena aku tak diundang saat mereka menikah, ibuku adalah seorang Bankir ternama dikotaku Mira Sastri Widajaja namanya.
Seperti kebanyakan siswa seusiaku, aku adalah anak yang sangat hobi
berolahraga,bermain game, musik dan aku adalah siswa yang populer disekolah
ditambah lagi aku adalah satu – satunya pewaris dari perusahaan milik ayahku
tentu saja mudah sekali bagiku untuk mendapatkan kesenangan.
Meski aku memiliki banyak penggemar
bahkan wanita yang menyukaiku juga banyak, aku tak pernah memperdulikan mereka, aku sibuk dengan
kegiatanku sebagai Gamer profesional
di salah satu tim terkenal di kota ini yaitu Eclipse Esport selain itu aku juga sebenarnya sedang menyukai
seseorang yang selama ini ku perhatikan setiap pagi sebelum aku memasuki kelas,
Windi Amira namanya. Dia adalah salah
satu siswi yang mendapatkan beasiswa disekolah ini atas segala prestasinya,
juara Olimpiade Biologi, selalu menajdi juara kelas bahkan selalu menyabet
juara umum disekolahku. Tubuhnya tak terlalu tinggi mungkin sekitar 165cm saja
dengan tubuh langsing,matanya coklat, hidungnya mancung, pipi yang sedikit
tembem dan memiliki kulit kuning lngsat khas Indonesia, sedangkan aku adalah
blasteran, ayah dari ibuku adalah warga negara Jerman yang menikah dengan orang
Indonesia sedangkan ibu dari ayahku adalah warga negara Ukraina yang menikah dengan
orang indonesia. Windi selalu mengenakan pakaian yang sopan dan selalu membawaa
buku – buku pengetahuan yang ada didekapannya, selain itu Ia memiliki kepribadian
yang santun serta sangat ramah kepada semua orang, kecuali kepadaku. Tiap pagi aku selalu
menunggunya disudut gerbang sekolah sambil berjaga – jaga kalau saja dia lewat, walaupun aku tak berani
mengobrol ataupun sekedar menyapanya. Beginilah aku, selalu menjadi pengagum
rahasianya sejak kelas 10 sedangkan sekarang aku kelas 11, yang hanya bisa menikmati indahnya ciptaan Tuhan dari jarak jauh. Kami
sebenarnya sekarang menjadi teman sekelas, tapi hampir tak pernah terucap satupun kata – kata diantara
kami dalam obrolan santai layaknya teman sekelas, karena Ia adalah orang yang
sangat tidak suka berbicara sesuatu yang tidak penting apalagi dengan lawan jenis.
Suatu hari, aku memberanikan diri
untuk mengajaknya berbicara dengan maksud untuk menghilangkan rasa takutku
selama ini, “Hai Windi, emm kok bengong dari tadi?” , sontak dia terkejut dan
menjawab dengan nada ketus “ eh! Apa?! Siapa yang lagi bengong sih?! Aku dari
tadi mikirin soal Fisika ini, memangnya gak liat apa?! Dasar! Mengagnggu konsentrasiku
saja” sambil berlalu dan membawa semua bukunya dari hadapanku. Aku hanya bisa
menepuk keningku sambil terpejam dan berkata dalam hati “Wtf! Salahku apa coba
padahal aku gak ngagetin sama sekali” , usaha pertamaku saja sudah dibalas
seperti ini mungkin belum saatnya. Yaaah.....sangat
disayangkan. “Eh xel, pulang nanti mabar yuk aku pusing nilai ujian kimiaku cuma
92, aku pasti dimarahi mamaku nanti kalau ketahuan”, Franklin mengejutkanku
dari belakang sambil merangkulku. “eh eh...e, oke. Tapi nanti ya aku mau tunggu
windi pulang dulu di tempat biasanya”. “ Masih gak berani ngomong? Haduh....
cemen banget sih yakin situ lagi bro? hahaha. Eh itu pas banget dia lewat. Ooooooyyyyy! Windi!! Axel
sukkk...em....” Aku langsung menutup mulut Franklin yang selalu bocor itu “ Weh
bego! Mau ngapain sih bisa susah nanti Aku, kau tau kan kami satu kelas baru 2
bulan..jangan ngerusak dong tambah berat nanti penderitaanku karena perasaan
ini”. “eemm em...hoeh gila, lebay bos! Hahahah yasudah nanti kutunggu ya jangan
lupa”.
Sepulang sekolah aku kembali menuggu
Windi, masih ditempat yang sama di sudut gerbang sekolah, kali ini terasa panas
karena hari sudah siang. Windi tak kunjung muncul, aku sudah mulai bercucuran
keringat karena kepanasan, bukannya aku bodoh karena tidak menunggu di tempat
yang teduh. Tapi dari sinilah tempat yang menurutku paling tidak diketahui Windi ketika
pulang selain itu dari tempat ini aku bisa melihat Windi lebih lama saat
berjalan pulang menuju rumahnya. Akhrinya windi muncul bersama dua orang temannya
masih seperti biasa dengan membawa buku dalam dekapannya sambil bersenda gurau,
kulihat senyum manis itu tanpa kedip, walaupun aku sudah menunggu disini setiap
hari sejak kelas 10 aku tak pernah bosan melihat senyum itu. Ah sial, kemana
windi? Kenapa tiba – tiba hilang begitu, aku celingak – celinguk mencarinya
betapa terkejutnya aku saat kulihat dia sudah ada dibelakangku. “Heh! Kamu ngapain
disini dari tadi liatin aku senyum – senyum sendiri lagi?kamu yang tadi
ngagetin aku kan? Mau apalagi?! Mau berbuat jahat ya?!”. “eh ! eeeee....enggak
buk, eh enggak mbak halah...eng..enggak Slur, haduh apalagi sih mulutku ini
enggak sis!alaaa enggak win Ak..ak..aku Cuma menunggu sopirku datang menjemput
kesini kok”. “heh! Sudah salah masih bohong lagi, itu di saku bajumu kan kunci
motor, ngapain nunggu sopir? Kamu lumpuh?! Sudah - Sudah! Aku gak mau tau, kamu
jangan dekat – dekat aku. Paham?! Awas ya kamu!”. “iyaaaa maaf”.
Aku seperti pencuri yang ketahuan
sebelum beraksi, aku pun pulang dengan perasaan gundah karena pasti dia akan
tambah marah kalau dia tau setiap pagi dan siang aku menunggunya disini untuk
sekedar melihat senyumnya. Kukebut untuk pulang kerumah karena sudah ada janji
juga sama Franklin, dia adalah sahabatku sejak kecil dan dia adalah satu –
satunya sahabatku disekolah ini yang mau berbagi semua cerita dengan tulus
tanpa memanfaatkan segala yang kupunya saat ini. aku merebahkan diri di tempat tidurku, samil menatap langit - langit kamar yang penuh dengan lukisan awan. " darimana windi tau aku ada disitu ya? jangan - jangan? " aku terperanjat dan panik bagaimana kalau dia tahu kalau aku selalu ada disitu? pasti semakin sulit untuk berteman dengan dia, berteman saja susah apalagi mau jadi pacarnya.
Wahhh, ..
ReplyDelete