Windi Amira (2)


                HP ku berbunyi tanda ada notifikasi masuk, benar saja siapa lagi kalau bukan Franklin yang mengajakku untuk bermain game online bersama, akupun menepati janjiku. Sangking asyiknya bermain tak terasa waktu begitu cepat berlalu dan hari sudah petang, kuputuskan untuk beristirahat sebentar untuk sekedar mengisi tenaga. Tanganku rasanya kebas, mataku rasanya perih karena terlalu lama didepan layar komputer. Aku mengirim beberapa pesan singkat ke Franklin yang berisi  ajakan untuk bertemu di esok pagi sebelum masuk kelas untuk membicarakan Turnamen Nasional yang akan kami ikuti. Malamku mulai tiba akupun segera mandi dan pergi ke sebuah restaurant yang biasa kudatangi untuk melepas kepenatan dirumah, bagaimana aku tidak penat ketika ayah dan ibuku saja pulang larut malam, dan pergi bekerja dipagi buta. Hari – hariku lebih sering kuisi dengan kesendirian dan kesepian untung saja aku memiliki teman ngobrol dirumah ya walaupun itu hanya sebuah Bola Basket. Setelah semua sudah siap dan rapih aku pun pergi menggunakan mobil pribadi ayahku, terserahlah yang mana saja yang penting aku bisa sampai disana dan  makan dengan tenang.
                Sesampainya di Restaurant aku memesan beberapa makanan dan  minuman untuk menemaniku, ditengah waktu makanku tak sengaja aku melihat Windi bersama seorang laki – laki yang tak kukenal, kulihat dari kejauhan nampaknya mereka ngobrol begitu akrab dan diselingi senda gurau yang membuat Windi berkali – kali tertawa. Waduh... Rasanya semua makanan yang kumakan menjadi tidak enak, semua menjadi hambar bahkan ingin segera kusudahi memakannya dan memutuskan untuk segerea pulang meninggalkan pemandangan yang tak mengenakkan didepan mataku ini, saat membayar makanan yang kupesan tadi tak lupa aku membayar semua tagihan makanan yang dihidangkan untuk Windi dan teman laki – lakinya itu. “dasar aneh, sakit hati kok malah jadi dermawan” pikirku. Setelah pulang kerumah aku berencana untuk langsung tidur tapi sekali lagi notifikasi kembali masuk ke HP ku, lagi – lagi dari Franklin  yang mengajakku bermain, katanya dia sedang badmood karena dimarahi ibunya setelah ibunya tahu dia hanya mendapat nilai 92 dalam ujian kimia. “Baiklah, 1 match saja ya aku sudah ngantuk sebenarnya” jawabku. Yah namanya juga bermain game online 1 Match yang kami menangkan membangkitkan semangatku untukk terus bermain sampai menjelang pagi, rasanya sudah cukup puas aku melampiaskan kekesalanku terhadap pemandangan tak mengenakkan yang kulihat di restaurant itu. Sekarang tinggal memikirkan bagaimana cara menghadapi Windi jika kami bertemu disekolah, Ah nanti sajalah berpikirnya kan aku masih punya waktu tidur 2 jam sebelum berangkat sekolah.
                Sesampainya disekolah aku menunggu Franklin di gerbang sekolah, sekitar 10 menit aku menunggu Franklin akhirnya muncul juga, celakanya dia justru berangkat kesekolah bersama Windi entah bagaimana bisa dia akrab dengan windi. Pagi – pagi sudah datang kekacauan didepan mataku. “Hai, Frank, emm Win” sapaku kepada mereka, Windi tak menjawab sepatah katapun bahkan dia memandangku dengan sinis. Tiba – tiba dia tersenyum dan berkata “ Eh sudah mau masuk, Ayo pergi ke kelas Frank”, “Oh iya, benar juga. Ayo xel barengan sama kita”. Dengan sigap windi menjawab “Apasih  Frank, kan aku Cuma ngajak kamu kok malah ngajak dia sih. Gak asik! Ayolah” sembari menarik tali tas Franklin. Aku hanya bengong melihat apa yang barusan terjadi didepan mataku dengan senyum kecut aku menjawab “eeem yasudah duluan saja aku mau ke ruang guru dulu”. Jantungku berdegub kencang, pikiranku kacau. Masih pagi saja hariku sudah dihancurkan, bagaimana untuk selanjutnya, aku tak bisa membayangkannya. Dikelas aku hanya diam dan tidak selera untuk melakukan apapun. Lebih memilih menikmati senyuman dan sayup sayup suara Windi bahkan lebih menenangkan pikiran meskipun aku hanya bisa diam saja saat bertemu dengannya.   
                Tak biasanya hari yang semula cerah tiba – tiba berubah menjadi mendung, langit berubah menjadi gelap dan sesekali guntur saling bersautan di langit yang kelabu itu dan mulai turun rintik – rintik hujan yang mulai membasahi apapun yang ia hinggapi. Untungnya Aku selalu membawa payungku ketika kesekolah, ya tentu saja untuk berjaga – jaga kalau saja hujan karena negara kita kan hanya punya dua musim saja yaitu musim hujan dan musim kemarau. Hujan yang deras ditambah angin yang bertiup kencang membuat efek embun didepan mataku, dari kejauhan kulihat seorang wanita yang sedang berusaha menutupi terpaan air hujan menggunakan tangannya,tampaknya sosok itu tidak asing bagiku. Ah, benar saja itu adalah windi tapi tumben sekali dia pulang sendirian tak ditemani sahabatnya. Walaupun aku masih penasaran dengan siapa laki – laki itu dan sedikit iri karena tidak dapat merasakan apa yang laki – laki itu rasakan tapi tetap saja aku tak bisa membohongi perasaanku untuk membantunya. Sebentar, mengingat atas semua kekacauan yang terjadi kemarin dan hari ini sepertinya dia tidak akan mau menerima payung ini jika ia tau ini adalah payungku, wah kebetulan sekali ada Daijiro “Oy Daijiro! Bro sini bentar dong” panggilku dengan sedikit teriak supaya dia tahu panggilan dariku karena suara hujan saat itu sangat deras. “Apa xel?tumben koe manggil – manggil aku” . “Ah ini mau minta tolong dong kasihin payung  ini ke windi biar dia bisa pulang”. “hah? Kenapa e kok ndak kamu kasih sendiri aja?kan tinggal kesana aja to?”. “iyaaa emang bisa, tapi dia bakal nolak kalo tau ini payung dari aku, biasalah emak – emak kalo lagi marah serem ,hehehe tolong yah”.”yawes tak bantuin deh mana sini payunge”.”wah bener ya, makasih ya ji”.”iyaaa sama – sama wes”.
                Kulihat dari kejauhan sampai daijiro benar – benar menghampiri windi untu memastikan payung itu benar – benar diterima windi. Wah benar sekali dia tampak sumringah karena mendapatkan payung untuk pulang dan langsung pulang dengan sedikit berlari. Sederhana sekali untuk bisa menyenangkan diri sendiri dan melupakan sakit hati yang kualami kemarin. Sekarang saatnya aku pulang kerumah menerobos derasnya hujan dengan berjalan kaki, aku tidak membawa kendaraan karena motorku sedang diperbaiki di bengkel dan akupun tak berniat menelpon sopirku atau menaiki angkutan umum, sepertinya hari ini dinginnya hujan mengajarkanku bagaimana caranya menghangatkan diri sendiri. Langkahku kumulai dengan cepat dan berangsur – asngsur berlari, lelah sih tapi aku masih merasakan bahagia karena aku sudah melakukan sesuatu yang menurutku bisa membantu Windi. Diperjalanan pulang sekali lagi aku bertemu windi kali ini aku melihatnya sambil melanjutkan lariku , aku tak tahu mengapa ia berdiri di tepi jalan dan ini bukanlah jalan menuju rumahnya,kulihat ia menatapku tanpa memberikan isyarat sedikitpun dan kamipun saling tatap saat aku menghentikan lariku sebentar untuk sekedar melihatnya dengan jelas, ia hanya melihatku bahkan tatapan matanya tak memberikan izin kepadaku untuk lepas dari jeratannya. Rambutnya basah, baju seragamnya lusuh dan tak kulihat satupun buku pengetahuan yang biasa ia dekap erat sebagai teman “bermainnya”, Aku hanya diam diapun juga diam melihatku berhenti berlari, tiba – tiba ia membalikkan badannya dan pergi begitu saja dari hadapanku tanpa pamit, aku menahan senyumku diujung bibir, perlahan Aku mengerutkan keningku  karena heran, kenapa ia bisa berada disini, tapi yasudahlah mungkin dia memang mau lewat jalan ini untuk menikmati hujan lebih lama, yang penting dia aman bersama payungku dan aku melanjutkan lariku menuju rumah yang jaraknya tinggal 50 meter saja dari sini, disepanjang jalan aku masih memikirkan windi yang tersenyum menyambut payungku walaupun itu daijiro yang menyampaikan kepadanya, badanku basah kuyup tapi aku merasakan kehangatan senyuman  itu, hari ini mendung dan gelap tapi aku merasakan cerahnya raut wajah itu, “Windi Amira seandainya aku benar berani mengatakan apa yang kurasakan sebenarnya mungkin aku tidak perlu lagi memikul beban yang selalu mengganjal ini”

Comments

  1. Hampir sama dengan cerita ku bang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kebetulan sekali,terimakasih sudah membaca dan semoga sukses selalu ya

      Delete

Post a Comment