Windi Amira (3)


               Sesampainya dirumah aku langsung menuju kamarku untuk segera mandi dan mengganti bajuku yang basah, aku bingung kenapa badanku rasanya tidak enak sekali dan lemas, Ah mungkin ini karena aku berlari terlalu semangat sampai tidak terasa kalau aku berlari sejauh 2km. Sesudah membersihkan tubuhku, aku kembali menghadap layar komputerku untuk bermain game online bersama – temanku untuk berlatih bersama karena kejuaraan nasional sudah tinggal beberapa hari lagi. Ditengah serunya permainan, aku kembali teringat tatapan windi yang menjeratku tadi sepulang sekolah, aku masih penasaran kenapa dia bisa melewati jalan menuju rumahku. Aah, panasaran sekali rasanya, ingin sekali aku menyapanya dan pulang bersama Windi. Mungkin itu adalah mimpi yang perlu ku wujudkan di kemudian hari.
                Karena tubuhku masih lelah, aku sampai tertidur di meja komputerku dengan keadaan komputer masih menyala dan permaian masihi berlangsung, ditengah malam aku terbangun karena merasakan pegal di punggungku, mungkin karena aku tidur dalam posisi duduk dan membuat tubuhku tidak nyaman. Aku pergi ke dapur untuk mengambil segelas air minum di kulkas dan kembali ke kamar, oh iya HP ku apa kabar ya apakah masih bisa menyala setelah kubawa hujan – hujanan. Wah syukurlah masih bisa menyala, kulihat sebuah pesan singkat yang berisikan huruf “P” dari nomor yang tidak kukenal, di kontaknya pun aku tidak menemukan keterangan apapun. Ah mungkin salah sambung. Aku berniat tidur sebenarnya, tapi mataku enggan terpejam. Aku hanya bisa memandang langit – langit kamar sambil memikirkan Windi, apakah dia pulang dengan selamat atau tidak, karena hujan sangat deras ketika kami pulang, sudah ribuan kali aku khawatir kepadanya, sudah ribuan kali aku menunggunya di gerbang sekolah, sudah ribuan kali aku menjadi penikmat senyum manisnya, tapi sampai sekarang aku tidak bisa berbicara dengan santai dengannya, entahlah  aku juga tidak tahu apa sebenarnya salahku, bahkan aku adalah satu – satunya manusia disekolahku yang diacuhkan oleh Windi, entahlah mungkin memang aku saja yang terlalu memikirkannya.
                Tak terasa pagi sudah tiba dan waktunya kembali kepada rutinitas menjadi seorang siswa SMA . Dari kejauhan kulihat Windi berdiri didepan gerbang sekolah seperti sedang menunggu seseorang. Wah benar saja, saat dia melihatku dia bergegas menghampiriku dan tiba – tiba melemparkan payung yang ia pegang kepadaku padahal aku belum berhenti tersenyum kepadanya untuk sekedar sapaan dalam diam, dengan muka cemberut dan nada yang sangat kesal dia membentakku “ Siapa yang suruh kasih payung ini?!”. “Apa Windi?ada apa? Aku tidak paham apa yang kamu bicarakan”. “Halah tidak usah bohong, ini payungmu kan? Kau perlu ingat ya Aku tidak butuh bantuanmu bahkan aku tak akan pernah meminta bantuanmu  jika kau adalah satu – satunya manusia yang tersisa di bumi ini!”. “Kau kenapa? Memang benar Aku yang menyuruh Daijiro memberinya kepadamu kulihat kau tidak membawa payung dan aku khawatir kau tidak bisa pulang”. “ Halah! Aku tak peduli apapun alasanmu, kan aku sudah bilang jangan dekat – dekat denganku. Kau ini tidak paham atau tidak menegrti bahasa manusia sih? Kau tahu kan aku tidak menyukaimu ada didekatku?apa kurang jelas sikapku selama ini kalau kau itu menggangguku?kalau perlu kau pindah sekolah saja sana, dengan keadaanmu yang orang kaya itu kau pasti sangat mudah mendapatkan kursi disekolah lain. Sudahlah aku semakin benci apapun tentangmu kau ingat itu AXEL WIDJAJA. Dasar keras kepala!bisanya mengganggu saja” muka windi memerah seolah menahan tangisnya dan langsung pergi meniggalkan buku – buku pengetahuannya yang berserakan didepanku karena terjatuh saat ia menunjuk - nunjukku. “Iya Windi, Aku minta maaf”. Jawabku lirih mengantarkan kepergian Windi dari hadapanku dan menundukkan kepala sembari memunguti semua buku yang berserakan itu. Luar biasa sekali pagi ini, sangat kacau. suara Windi yang kencang dan berapi – api membuat semua orang yang lewat melihat kami bertengkar, baru kali ini aku dipermalukan seorang wanita karena telah berbuat baik kepadanya. Kutundukkan kepalaku disepanjang jalan menuju kelas, semua orang masih saja melihatku dengan rasa penasaran mereka, begitu juga Franklin yang tadi melihat kami saat bertengkar, dia mencoba memperbaiki keadaan dengan merangkulku dari belakang “Sudahlah, kau ini orang yang populer disekolah. Kau juga gak jelek – jelek banget, Windi sudah keterlaluan karena mempermalukanmu didepan orang banyak apalagi ini disekolahan. Kenapa kau tak berhenti menyukainya saja? Bukankah banyak yang ingin menjadi pacarmu?”. “ Tidak, aku tidak peduli dengan mereka dan aku tidak akan berhenti. Sudahlah jangan membual tidak jelas tentang wanita – wanita itu. Aku tak menyukai mereka”. “hm...baiklah, aku hanya bisa mendukungmu saja, kumaklumi karena Windi adalah cinta pertmamu dan kau pasti tidak ingin cinta pertamamu berakhir tragis kan? Baiklah ayo semangat, jangan sampai ini mengganggu apa yang sudah kita bangun selama ini bersama tim untuk memenangkan Kejuaraan Nasional”. “Iya”.
                Ketika dikelas aku meminta tolong Franklin untuk memberikan semua buku Windi yang tadi kupungut di depan gerbang sekolah, aku tak ingin menambah masalah lagi dengan windi. Windi melihatku dengan tatapan sinis dalam diam tanpa kata, aku hanya melempar senyum basa sbasi kepadanya dan sama sekali tidak bersemangat menjalani hari ini serta berharap hari cepat berlalu supaya aku bisa segera pulang kerumah. “Ayah, ibu, aku sangat membutuhkan kalian. Cepatlah pulang ke Indonesia. Aku rindu.” Ketika praktik mata pelajaran Kimia kebetulan aku sekelompok dengan Windi, kami tak berbicara sepatah katapun bahkan lebih sunyi dari biasanya. Saat dia berbicara dengan tempat sekelompok yang lain ia sangat bersemangat, bahkan dia hanya menunjuk barang yang dibutuhkan jika butuh bantuanku, ditengah jalannya praktik aku melamun karena masih memikirkan kejadian tadi tiba – tiba Anton menepuk pundakku dan menyuruhku untuk membantu windi mencampurkan bahan kimia yang ada di wadah. windi masih marah kepadaku, ketika aku mendekatinya dan bertanya kepadanya apa yang harus kubantu sambil mengulurkan tanganku untuk melihat panduan praktikum tiba – tiba iya menyibakkan tanganku dengan kencang dan “Prang!” dia tidak sadar bahwa ia tidak hanya menyibakkan tanganku bahkan mendorongku sehingga tubuhku membentur bahan – bahan kimia berbahaya jika terkena kulit. “Ah! Panas !” Aku meringis kesakitan tergeletak dilantai. Kudengar sayup – sayup Franklin berlari menghampiriku dan berteriak “Kau apakan Axel?! Hah? Kau apakan?dasar cewek aneh”. Franklin langsun membenarkan posisi tubuhku yang meringkuk di lantai dan setelah itu aku tak tahu apalagi yang terjadi , yang kutahu aku terbangun di kamar rawat inap sebuah rumah sakit. Kulihat windi ada disudut kamar menungguiku bersama Franklin, “Hai, aku sudah bangun” kataku lirih. Kulihat Windi langsung ingin menghampiriku dan langsung dicegah Franklin “Tak usah dekati Axel, bukannya kau yang menyuruhnya untuk tidak dekat – dekat denganmu?”. “Frank, tapi kan? Aku...”.”sudahlah tak perlu alasan, kau sengaja kan supaya Axel celaka?”. “tidak, percayalah aku tidak sengaja melakukannya. Aku benar – benar tidak tahu kalau aku mendorongnya”. “sudahlah, terimakasih kau sudah menghancurkan mimpi axel selama ini dan apapun yang sudah dia korbankan bersama kami.”. “Maksudnya?aku tidak paham apa maksudmu bukankah Axel sudah mendapatkan penanganan yang terbaik dan menunggu waktu sembuhnya saja?”. “kau tahu?4 hari lagi kami akan mengikuti kejuraan nasional mewakili kota ini, dan Axel adalah orang penting di tim kami. Karena kesalahanmu ini Axel harus dirawat selama 7 hari dan tidak boleh beraktivitas diluar ruangan akibat luka bakar dari bahan kimia karena kecerobohanmu itu, sekarang kau sudah puas ? sudah?”. Aku juga terkejut karena lukaku ternyata begitu parah, kulihat windi menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menahan tangis meskipun air matanya teteap mengalir, ia terisak tak karuan. “akh...akuuu minta maaf Frank, aku ....aku mint...minta maaf” kali ini ia tak menahan lagi tangisnya dan air matanya tak lagi terbentung membasahi pipi. “sudahlah Frank.....jangan kau marahi terus Windi, ini adalah salahku karena mengganggunya bekerja dan jahil kepadanya seharusnya aku hati - hati sehingga tidak terpeleset. Aku yang salah”. “ tidak! Aku yang salah berhentilah berbohong untuk menyelamatkan orang lain. aku yang salah aku minta maaf Axel, aku berjanji akan menemanimu setiap hari sampai kau sembuh dan kembali kesekolah” Windi membentakku. Aku hanya tersenyum “ tidak apa – apa, jangan merepotkan diri sendiri”. “Axel! Tolong biarkan aku menebus kesalahanku ini” .

Comments