Adik Manis Kenpa disini?
Setiap
sore kami memiliki rutinitas bermain bola voli bersama pemuda – pemudi sekitar,
tentu saja ini juga merupakan salah satu proker yang di gagas Pian. Karena terlalu
asyik bermain kami seringkali pulang saat hari sudah mulai petang dan bahkan
beberapa kali adzan maghrib adalah sebagai peluit tanda berakhirnya pertandinga,
jangan ditiru ya hehe. Jadi waktu itu aku pulang berbarengan dengan Pian, risko
dan galih ke posko kkn, karena kamar mandi hanya ada dua dan mesti digunakan
untuk 15 orang peserta KKN ditambah 5 orang anggota keluarga sering kali kami
harus antre untuk menggunakannya. Pada suatu kesempatan setelah selesai mandi
bersama risko, Galih, pian dan abdul aku menuju kamar untuk mengganti bajuku.
Di
ruang tengah yang biasa kami gunakan untuk makan tertata rapi meja makan
lengkap dengan kursi dan perlengkapan lainnya, dari pintu masuk ke rumah
kulihat seorang anak kecil mungkin umurnya sekitar 4 – 5 tahun memakai outfit
serba putih dari peci sampai celana dengan posisi kepala yang di sandarkan ke
meja dan tangannya bersedekap diatas meja seperti anak SD jaman dulu yang
sedang berdoa, aku tidak berpikir bahwa ini keanehan karena memang sudah biasa
anak – anak disekitar sini belajar mengaji ke posko kami. “Eh ngapain kamu
disini dek, itu temanmu sudah siap – siap mau ngaji dengan kakak – kakak yang
lain” sambil kuelus kepalanya. dia tidak menjawab tanyaku tapi langsung berlari
keluar, hal pertama yang kupikirkan adalah mungkin dia malas berbicara saja .
Setelah
sholat berjamaah kami memulai mengajarkan mengaji kepada mereka yang datang
kesini, yang membuatku heran adalah anak yang kutemui di meja makan tadi tidak
kutemui tapi aku masih berpikiran positiv mungkin aku tadi salah lihat dan
melanjutkan mengajar ngaji sampai selesai. “eh tadi ada anak kecil yang pake baju
serba putih nggak sih?” tanyaku kepada Risko sambil memakan kudapan yang dikirimkan
ibunya dari Palembang. “enggak, kenapa?eh tapi coba tanya yang lain soalnya
tadi setelah sholat aku masuk kerumah”. “oooh mungkin aku salah lihat”.
Pembicaraan
terhenti disitu, dan aku masih berpikir bahwa itu hal yang wajar, keesokan
harinya masih dengan rutinitas yang sama, setelah seharian mengerjakan beberapa
proker yang kami rancang, kami melepas penat dengan bermain bola voli . kali
ini Aku, Pian dan risko bermain ke desa sebelah yang jaraknya mungkin sekitar 5
km dari posko KKN, lagi – lagi kami pulang dalam keadaan sudah mulai gelap dan
matahari bergantian sift dengan rembulan.
Karena
kamar mandi yang bisa kugunakan adalah yang letaknya di belakang rumah dan
harus melewati tangga dan kolong rumah untuk sampai kesana, terpaksa aku mandi
sendirian diiringi adzan maghrib yang sudah menggema memanggil untuk
melaksanakan kewajiban. Setelah selesai mandi aku kembali melewati tangga dan
kolong rumah untuk menuju kamar, dan lagi. Anak kecil dengan outfit serba putih
itu sedang duduk di bangku panjang yang biasa kami gunakan untuk bersantai
dengan posisi membelkangiku. “eh dek, kok masih disini? Kan yang lain sudah siap
– siap mengaji” saat kucoba mengelus kepalaya lagi, ia sudah berlari saat
tanganku belum sempat menyentuhnya tanpa ada jawaban sepatah katapun.
Kali
ini aku merasakan sedikit keanehan, karena kejadian ini seperti berulang, tapi
aku melanjutkan untuk mengajar ngaji bersama teman – teman. Ketika mengajar,
sesekali kuperhatikan semua anak – anak yang hadir, dan tahukah kalian? Tidak ada
anak kecil yang yang memakai outfit serba putih. Setelah selesai mengajar aku
menghampiri pak Yono yang tengah asyik menonton pertandingan sepakbola.
“Pak, maaf. Saya mau tanya”. “Nah
apa itu mas dika?” jawab pak yono sambil membetulkan posisi duduknya. “begini
pak saya sudah dua kali melihat anak kecil dengan pakaian serba putih disekitar
sii, pertama di meja makan kedua di kursi panjang yang ada di dekat tangga
rumah. Apa itu bagian dari penghuni disekitar sini?”. Kulihat pak Yono
mendengarkan dengan seksama dan kemudian menjawab “Oalah....itu anak kecil yang
nunggu rumah ini mas, dia itu istilahnya ingin berkenalan lebih jauh dengan mas
dika. Mungkin dia senang didekat mas dika karena mas kan sering bercanda kalau
di posko, jadi mungkin dia senang”. Aku terdiam sejenak, dan rasanya seperti ‘WTF!
Aku mengusap kepalanya kemarin’ . “tapi apa ddia jahil pak?”. “Oh enggak mas
Dika, dia ya seperti anak kecil biasa lah seperti manusia Cuma suka bermain”.
Comments
Post a Comment