Aku ada disekitar kalian, tangkap aku.
Matahari
sudah semakin tinggi, semua orang sibuk mengerjakan proker masing – masing sampai
menjelang sore hari, baru seminggu kami KKN disini sudah ada kabar tak
mengenakan di lingkungan kami, bukan karena ulah kami yang mengusik ketenangan
warga tapi salah sau warga di desa kami ada yang hilang. Konon beliau semalam
sedang kerja lembur membuat kandang ayam bersama adiknya untuk membuka
peternakan ayam , menurut penuturan saksi di tempat kejadian tepat tengah malam
mereka diusik dengan suara – suara astral dari wanita yang tertawa sampai yang
menangis, awalnya mereka tidak memperdulikan suara itu karena tahu bagaimana
keadaan desa ini, tapi tidak selang lama suasana menjadi sangat hening dan
muncullah sosok makhluk yang menggunakan baju putih dengan rambut panjang
melayang didepan mereka, sang adik sontak lari kedalam rumah namun naas sang
kakak malah berlari ke hutan karena panik dan belum ditemukan setelah 1 x 24
jam.
Malam
itu malam jumat, semua pemuda dikumpulkan oleh pak RT untuk menyisir daerah
hutan dan kebun warga untuk mencari salah satu warga yang hilang tadi,tanpa
terkecuali anak KKN yang laki – laki, karena menurut saksi yang melihat warga
tersebut sempat terlihat melintasi kebunnya ke arah perkebunan perusahaan yang
ada di dekat desa ini. tentu saja Aku, Risko, Galih dan Pian turut ikut
mencari. Sekitar 30 0rang berkumpul malam itu setelah sholat isya berjamaah di
masjid, kami dibagi menjadi 2 tim besar.sebut saja tim A dan tim B, Tim A menyisir seluruh kebun dan hutan di
sisi kiri jalan dan tim B menyisir seluruh kebun dan hutan di sisi kanan jalan,
yang di takutkan bukan gangguan makhluk ghaib saja,justru malah hewan buas. karena disini
sangat terkenal dengan populasi ular kobranya, karena perusahaan yang ada di dekat
desa ini menggunakan ular sebagai pengendali hama dan tentu saja ular – ular itu
sudah ikut tersebar secara tidak sengaja ke kebun warga.
Sekitar
jam 9.00 malam, kami mulai menyisir tiap jengkal kebun warga dari kebun karet,
kebun sawit, kebun jagung sampai hutan yang kami temui. Karena tak menghasilkan
apapun dan jam sudah menunjukkan pukul
1.30 dinihari kami pun dikumpulkan kembali atas arahan pak RT, mungkin sekitar
3 hektar kebun warga yang baru kami jelajahi malam ini karena cuaca gerimis
kami tidak bisa bergerak dengan sigap menyusuri kebun terlebih lagi kami
menyusuri jalan setapak dengan berjalan kaki. Singkat cerita kami melakukan
pencarian sekitar 1 minggu tiap malam secara berturut – turut, gerimis, bulan
purnama dan gelap gulita seakan – akan sudah sangat bersahabat dengan kami
dalam pencarian.
pada
suatu malam kami menyusuri kebun yang berdampingan dengan kawasan hutan, untuk
mempercepat pencarian kali ini tim A dan
tim B dibagi lagi menjadi tim – tim kecil beranggotakan 5 orang, tentu saja
Aku, Pian, Risko dan Galih dalam satu tim yang sama ditemani salah satu warga
yang usianya tidak terpaut jauh dari kami. Dengan berbekal penerangan dari
Flash HP kami berlima dan satu buah senter besar kami pun menyusuri kebun yang
mungkin sekitar 1 atau 2 hektar luasnya. Sampailah di suatu titik dimana warga
itu memberhentikan kami dan mematikan cahaya senter sehingga tinggal lah cahaya
dari Flash HP yang terangnya tidak seberapa. “Bang, kita stop dulu disini. Ini ada
pohon durian hutan juga”. “Kenapa mas? Majulah sedikit sepertinya disini kurang
enak suasananya” sahutku. “itu yang kumaksudkan bang, kesini sebentar mendekat”.
Kami pun membentuk lingkaran berlima, “Siapa yang berani melihat ke atas pohon
ini sendirian saya kasih uang cash, tapi kami melihatnya dari kejauhan mungkin
dari situ lah” ia menunjuk semak yang tak begitu rimbun sambil mengeluarkan
uang cash mungkin sekitar 200ribu. Tiba – tiba angin tak lagi berhembus dan
suasana hening, suara hewan malam tak lagi bersahutan satu sama lain, dan
gugurlah beberapa ranting beserta daunnya. “Wah, kayanya sudah kode mas, pohon
ini pohon durian yang sudah sangat tua bahkan ssaat aku kecil pohon ini sudah
berbuah”. “Kenapa tidak kita lihat bersama – sama mas?” Risko memotong
penjelasan warga itu. “Kalau mau berlima tapi janji ya jangan ada yang tidak
melihat ke atas, hawa disini rasanya sudah berat sekali, kalian rasakan tidak? Tengkuk
saya sudah berat dari tadi”. “dari tadi aku sudah merasakan itu mas, bahkan
sebelum sampai di sini rasanya aku sudah ingin pulang”. Kami pun sepakat untuk
bersama – sama melihat ke atas pohon rindang dan besar itu dalam hitungan
ketiga. “ 1, 2 ,3 “. Untunglah tidak ada apa – apa selain lambaian daun yang
seolah – olah ada orang yang singgah disana sebelumnya. tiba – tiba angin
kembali berhembus, hewan malam saling bersahutan dan teriakan seorang warga
memecah keheningan malam itu. “Woy mas!! Ada orang berlari”. Kami pun langsung ke sumber suara dan
berkumpul. “dimana?” tanya warga lain. “disana mas”. Jawab warga itu samil
menunjuk ke arah utara, tapi tiba – tiba jelas sekali suara orang berlari
menuju barat kami ikuti sambil berlari, tiba – tiba suara berpindah kearah
timur, kami ikuti lagi, tiba – tiba berubah lagi ke arah selatan, dan terus
berubah – ubah sampai ahirnya seorang warga berteriak “ Stop! Stop! Kumpul dulu
kita. Ini bukan manusia aku yakin kita sedang dikerjain. Tidak ada jejak bahkan
bkas orang berlari padahal dari tadi disekeliling kita semak - semak”. Pencarian
malam itu pun kami akhiri mengingat kejadian yang barusan terjadi, di
khawatirkan membuat kekacauan dan justru menambah daftar orang hilang di desa
ini. disaat semua berkumpul , suara itu kembali terdengar dan mengelilingi
kami, sontak semua warga terdiam dan pak RT pun berujar “Hei !! kami tidak
ingin mengganggu. Kami mencari saudara kami yang hilang jadi tolong jangan ikut
mengganggu!” seketika suara itu berhenti dan hilang tanpa isyarat apapun.
“Untuk
selanjutnya kalau ada suara seperti itu tolong di cek dulu, dan juga tolong
warga disini jangan berlari terlaru cepat . ingat kita membawa anak KKN didalam
tim dan mereka tidak tahu medan yang dilalui didalam hutan ini, yang
dikhawatirkan mereka tertinggal dan justru ikut hilang, karena selain hewan
buas dan makhluk ghaib, disini juga banyak jurang – jurang kecil atau parit
yang besar. Tolong hati – hati” tutup pak RT dalam perkumpuln malam itu. Benar saja kami berempat merasakan nafas yang
tersengal setelah berlari kesana kemari karena “kejadian” tadi.
Comments
Post a Comment