Hutan malam ini
Baiklah
kuanggap itu semua adalah “ucapan selamat datang” untukku, malam masih bersenda
gurau dengan bintang yang bertebaran di langit, ditambah suara jangkrik yang
saling bersautan menambah kental suasana desa. Kebetulan malam ini beberapa
pemuda sekitar bersilaturahmi ke posko kami, entah silaturahmi saja atau ada
maksud lain, karena di lingkungan sekitar posko kami tak ada satupun pemudi,
semuanya laki – laki sedangkan di poskoku mayoritas gadis – gadis cantik dari
kota yang pastinya memiliki daya tarik tersendiri ,sehingga hampir setiap malam
ada saja pemuda sekitar yang berkunjung dengan membawa berbagai macam buah
tangan.
Karena
di posko sedang tidak membuat kudapan apapun Akhirnya Risko selaku ketua posko
menyuruhku dan Galih untuk ke dusun sebelah untuk membeli beberapa makanan
karena di dusun kami hanya ada warung yang menyediakan sayuran dan beberapa
jajanan. Malam itu sekitar pukul 20.30 Aku dan Galih pergi membeli makanan
menggunakan motor salah astu anggota posko melewati kebun sawit, kebun karet
dan sedikit hutan belantara tanpa ada penerangan jalan selain lampu motor kami.
Suasananya hening dan hanya suara motor kami saja yang terdengar menderu
membelah keheningan malam menyusuri jalan setapak dari tanah lempung.
Dari
jauh tampak cahaya lampu motor lain yang berlawanan arah, semakin dekat cahaya lampu motor itu semakin tidak
enak pula perasaanku, bulu kudukku merinding dan suasana sangat dingin, “eh
lih, kok aneh ya. Suasananya nggak enak”. “Iya, tenang – tenang semoga tidak
terjadi apa – apa”. Saat kami berpapasan dengan pengguna motor itu tiba – tiba
Galih menghentikan motor kami tepat di tengah hutan, tentu saja aku terkejut.
“Ada apa?kok berhenti? Ini di tengah hutan bro ayolah cepat “. “kau lihat tidak
apa yang mengikuti orang tadi?”. “Tidak, aku hanya merinding dari tadi. Kupikir
disekitar sini ada yang mnegawasi kita”. Tiba – tiba terdengar bunyi orang
berlari di sekitar kami “udah – udah nanti saja kita pikrikan cepat di gas!”
Galih tentu saja langsung tancap gas.
Saat
aku tak sengaja melihat ke sisi jalan ada bayangan hitam yang berlari
mengiringi kami, sosok tinggi besar dan hitam legam. Aku langsung meringkuk ke
punggung Galih karena tidak mungkin di hutan seperti ini ada Naruto yang sedang
menyusuri jalan ninjanya. “Jan*ok! jangan ganggu woy kami Cuma numpang lewat!”
umpat Galih, untunglah sosok itu tiba –
tiba menghilang begitu saja.
Sesampainya
di dusun sebelah dan menyelesaikan belanjaan kami, “Eh anjir, kita pulang lewat
mana?masa lewat tempat tadi lagi?” tanyaku. “mau lewat desa P? ampun lebih baik
lewat hutan daripada lewat desa P, lebih seram memangnya kau tidak tahu cerita
jalan menuju desa kita jalur desa P?”. “Tidak, yasudah ayo pulang tapi ngebut
ya”. “siap komandan, kalau motornya rusak kan di perbaiki sama – sama” .
syukurlah di perjalanan pulang kami tidak menemui kendala apa – apa dan sampai
posko dengan selamat. Di sela – sela obrolan bersama pemuda sekitar Galih
mengajakku berbicara. “serius kau tidak lihat yang tadi?”. “tidak, yang kulihat
ya genderuwo tadi. Wah nggak paham lagi Aku sama desa ini”. “Orang yang lewat
tadi diikuti sosok seperti hewan mitologi, badannya harimau kepalanya Anjing
seperti memiliki sayap begitu. Makanya aku tadi berhenti”. “ah ampun, sering
banget kita dapat kejadian aneh simpan saja jangan diceritakan ke orang
lain”.”oke – oke”.
Comments
Post a Comment