Mama Pulang


Di sepanjang jalan kami masih sesekali mendongakkan kepala melihat pemandangan indah yang disajikan alam untuk kami, “Eh kak, yang tadi itu siapa sih?”. “Oh tadi? Itu marina, dia salah satu orang yang suka aku, tapi aku tidak suka dengan dia”.”kenapa? kan dia cantik, badannya juga bagus”.” Kan aku pacarmu, gimana sih Win?”. Aku menghentikan langkahku, begitupun dia dan kami pun saling tatap satu sama lain . “Bhahahahahahah” kami pun tertawa bersama “Ya masa aku pacaran sama kakakku sendiri sih kan nggak mungkin” sambungnya, seketika aku tersadar kalau dia menganggapku sebatas kakak angkatnya saja dan bukan sebagai laki – laki yang istimewa di hidupnya, “eh tapi lumayan kan kalau kakak punya pacar kan aku jadi punya teman main yang baru”. “enggak lah.....aku sedang menunggu seseorang, dia cinta pertamaku jauh lebih cantik lagi dari Marina”. “Serius? Siapa? Satu sekolah ya sama kita?jangan – jangan satu kelas?”. “Hem...bisa jadi bisa jadi”. “Aku tahu! Kak franklin kan?hahahahaha”. aku pun ikut tertawa sambil menghela nafasku karena kupikir dia benar – benar tahu kalau aku menyukainya sejak lama, di sepanjang jalan dia adalah orang yang berbeda. Orang yang sangat cerewet dengan segala ocehannya, sesekali kulihat raut wajahnya saat berbicara , wajah yang selalu serius yang kutemui disekolah tidak tergambar sama sekali kali ini, yang kutahu hanyalah kau sangat cantik windi.
                “Win, kau pernah suka sama laki – laki?”. “Per..nah”. “siapa?”. “Adadeeeeh....rahasia dong”. Akupun terdiam, dia juga terdiam sambil memandangku, “Kenapa kak?apa ada yang salah?”. “Ohhhh Tidak....”. “Kak capek nih istirahat dulu yok,eeeem.... nah itu ada bangku”. “ayolah pulang saja, sudah malam ini apa kata orang nanti kalau kita terlalu malam pulang kerumah”. “Tapi kan aku cap...eeeeeeee kakaaaaaak!”. Langsung saja kugendong dia di belakangku seperti waktu malam itu, “tetap bisa sampai rumah kan walaupun capek”. Dia hanya diam, menundukkan kepalanya di bahuku, entah mungkin dia malu atau terkejut dengan yang kulakukan.
                “Kak, kan sudah tidak ada marina...sudah dong pura – pura pacarannya”. “ siapa yangpacaran?kan aku kakakmu, kalau adikku capek ya aku dong yang harus membantu”. “Tapi kan.....banyak orang yang lihat”. “Gampang...... ‘permisi pak....permisi buk...dia adik saya....’ sudah kan?aman dong hahahahaha”. “dasar orang aneh, kita malah semakin aneh kak”. “Oh iya, ayah dan ibu sebentar lagi pulang, kau siap – siap ya jangan sampai waktu ayah dan ibu pulang kau dalam keadaan berantakan, putri keluarga Alex Widjaja harus selalu cantik ya”. “ kan aku selalu cantik”. “Iya,kau selalu cantik”. “Apa kak?”. “Eh..eng....emm..enggak....itu di seberang jalan ada toko barang antik”. Di sepanjang jalan Windi masih saja mengoceh tanpa henti, sampai akhirnya kami sampai dirumah dan kugendong dia sampai ke depan kamarnya. “Stop stop stop stop, kakak nggak boleh masuk”. “Iyaaa aku paham, yasudah masuklah ke kamar jangan lupa cuci tangan, cuci kaki dan gosok gigi ya”. “Iyaaa kakak” ia melemparkan senyum yang sangat manis kepadaku dan tak sadar mukaku memerah melihat senyumannya, “yasudah , sana – sana masuk aku mau tidur” kuusap – usap kepalanya beberapa kali dan dia pun memegang tanganku untuk menghentikan usapanku. “kak Axel”. “eh?kenapa?” . “Terimakasih ya” widi mengatakannya dengan lirih dan menundukkan kepala. “kau kenapa?”. “Tidak apa – apa kak” Windi langsung memelukku dan menangis, kurasa tangis bahagia karena sebelumnya ia mengucapkan terimakasih kepadaku. “Selamat malam.....ayah pulang nak!” kudengar pintu rumah terbuka, tapi aku tidak enak hati kalau melepaskan pelukan Windi karena kurasa ia sedang membutuhkanku dan kuabaikan suara itu.
                “Axel! Kamu ngapain?” tiba – tiba suara yang tak asing meneriakiku dengan kencang, aku dan windi pun terkejut, sontak windi langsung melepaskan pelukannya dari tubuhku. “ibu? sebentar ini salah paham bu”. “Axel, Windi, ayo kesini ibu perlu berbicara dengan kalian”.

Comments