Marina


Setelah minum coklat hangat itu, aku kembali ke kamarku untuk istirahat begitupun dengan Windi beristirahat di kamarya, sebelum tidur aku memikirkan bagaimana seharusnya aku bersikap kepada Windi karena gejolak yang ada didadaku sudah semakin besar dan sulit untuk dibendung, kalau kalian di posisiku kalian akan bagaimana?. Saat aku bangun, hari sudah hampir gelap dan aku duduk memilih duduk sejenak di teras belakang rumah menikmati senja di temani secngkit kopi susu buatanku sendiri, mungkin aku harus sering – sering seperti ini supaya bisa agak menjauh sedikit dari segudang permaslaahanku di dunia yang sudah tua ini.
                saat malam tiba, aku mengajak Windi untuk makan bersama di restaurant favoritku. “Win, aku pengen makan di luar, kau mau ikut tidak?” ajakku dari balik pintu kamarnya. “Sebentar kak, aku tidak dengar, ada apa kak?”. “Aku mau makan di luar, ikut nggak?”. “mau sih tapi kakak yang bayar kan?”. “Heeemmm....dasar yasudah ayok cepatlah ganti bajumu”. “Yeyyy! Tunggu ya sebentar”. Tidak selang lama Windi muncul dengan tampilan yang luar biasa cantik. “Kau mau kemana sih? Kenapa dandan seperti ini?”. “siapa yang dandan? Kan aku memang seperti ini biasanya”. “Oh iya ya”. Aku baru sadar ternyata memang Windi sudah cantik setiap hari, aku saja yang tidak menyadarinya.
                Sesampainya di tempat makan, aku memesan menu yang biasa kubeli, begitu juga windi. “Oooo disini tempat kesukaan kakak untuk makan ya? Tempat mahal ya aku mana mungkin bisa makan disini kalau tidak di traktir. Pasti lebih baik kugunakan untuk beli buku daripada makan disini”. Demi Tuhan, windi kau memang wanita langka, kenapa sih kita malah jadi kakak beradik bukannya menjadi sepasang kekasih saja setidaknya buatlah cerita cinta pertamaku menjadi indah. “Hei! Kak Axel, kau kenapa bengong?” tanya Windi sambil melambaikan tangannya didepan mukaku. “Oh tidak apa – apa, aku Cuma kepikiran sesuatu”. “menu yang keupesan terlalu mahal ya? Ganti saja kak “. “Bukan..... bukan itu, kau jangan khawatir”. Sambil kuusap kepalanya sambil melempar senyum kepadanya, pun dia juga melemparkan senyumya kepadaku.
                Di saat kami makan bersama aku bertemu dengan Marina yang kebetulan dia juga sedang mau makan disini. “Hei Axel! Sudah lama ya tidak ketemu. Apakabar? Makin ganteng nih makin ‘Bule’ ya kamu”. Dia berlari sambil merentangkan tangannya ingin memelukku tapi kutahan. “eh Marina, baik. Aku baik saja kok”. “Kau suka makan disini ya? Dan ini.....” Marina memandang Windi yang dari tadi asyik makan dan tak menghiraukan kedatangannya, dasar windi kalau sudah makan mau ada angin ribut pun tidak dihiraukan. “Oh ini...diaa....”. “Aku pacarnya, Axel. Kenalkan aku Windi” sambil mengulutkan tangannya kepada Marina. WTF!!!! Windi malah ngapain sih. “Waaaah....Axel sudah mau pacaran ya sekarang,   padahal dulu ngomong ke aku kalau tidak perduli dengan wanita hahaha”. “Ehhh ini bukan gitu...”. “yasudah ya Xel kalian lanjutkan saja makannya, selamat menikmati” Marina pun pergi diiringi senyum kecu tyang tergambar dibibirnya. “Woooy Windi kau apa – apaan sih?ngagetin orang ngaku jadi pacarku pula”. “Bhahahahaha....bagaimana aktingku? Bagus kan?”. “yaa buat apa sihhhhh”. “Tapi kakak suka kan aku bilang begitu? Hahaha Dan lagipula aku tidak suka saja dengan dia, enak saja mau asal peluk kakakku . Axel kan milikku.” Dia tiba – tiba menatapku, akupun menatapnya dan terdiam untuk beberapa saat jelas sekali mukanya memerah saat memandangiku. “Ehhh emm..maksudnya kau kan kakakku, tidak boleh begitu pokoknya. Sudah yok makannya aku sudah kenyang kak”. “Ayok”.
                “Eh Win, kita pulang jalan kaki saja yok kan lumayan dekat jarak restaurant ini ke rumah kita”. “jalan kak?yaaaah...perutku kenyang sekali”. “sekali saja....lihatlah ke atas” sambil kupegang kepalanya dan kudongakkan ke atas. “Waaaaaaa bagus sekali kak, ayok kita jalan saja”.”sayang sekali kan kalau di lewatkan, kan jarang sekali kita bisa lihat pemandangan yang indah seperti ini”. Bintang memang sedang bertaburan di langit lengkap dengan kerlap - kerlipnya, bulanpun  terlihat sangat indah membuat suasana menjadi sangat romantis, kugandeng tangan Windi di sepanjang jalan menuju rumah.

Comments