sambutan Mbak Kunti
“Mas,
saya dengar dari Galih katanya jalur ke desa kita yang lewat desa P itu angker
ya?” Tanyaku kepada mas pras (ketua pemuda – pemudi) di sela pertemuan Ketua RT
untuk mempersiapkan acara peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke 73. “sebenarnya
tidak angker mas, tapi sering jahil saja penunggu yang di jembatan itu”.”jahil
gimana mas?”. “Jadi pak Muh yang kerja di PT itu pernah lewat jalur itu pada malam
hari, waktu melewati jembatan tiba – tiba motornya berhenti melaju karena ban
belakangnya terangkat”. “Serius? Wah resek juga ya ”. “ya seperti itulah
mungkin genderuwo atau yang lainnya, yang jelas di sekitar jalur itu ada rumah
tua yang sudah lama tidak ditempati karena pemilik rumahnya meninggal dan tidak
memiliki saudara lagi disini jadi rumah itu dibiarkan kosong tak berpenghuni”. “dengan
rumah ini lebih tua mana kira – kira mas?”. “Lebih tua rumah itu, mau coba kita
lihat malam ini? mumpung malam jumat juga kan”. “Serius mas?ayoklah kita kesana”.
“berani?jangan berani – berani tapi takut mas nanti repot”. “Iya ayok berani,
bareng – bareng kan?”. “Ayoklah ko, kita ikut. Jadi penasaran” sahut Galih.
Akhirnya setelah pertemuan itu selesain
sekitar pukul 23.00 kami pun pergi ke desa P lewat jalur tadi dan berencana
sekalian membeli pecel lele di desa sebelah, percayalah seseram – seramnya
hutan yang biasa kami lewati hutan dan kebun disini jauh lebih seram karena
rumput – rumput tinggi yang melengkung ke sebagian jalur yang kami lalui,
banyak pohon besar dengan akar yang menggantung di sisi jalan dan lagi hewan
malam mulai berkeliaran seolah – olah sedang bermain. Di sepanjang jalan aku
tak melepaskan pandanganku ke setiap jengkal sisi jalur yang kami lalui, benar
saja memang sangat seram jika dicermati lebih dalam.
Setelah
melewati jembatan tempat kejadian Pak Muh itu semua masih berjalan dengan lancar
dan aman saja, pikirku mungkin malam ini sedang beruntung sehingga tidak
terjadi apa – apa, tiba – tiba kami semua melambatkan laju kendaraan kami dan
berhenti didepan rumah tua khas melayu dengan halaman yang cukup luas. “Mas, ini
rumahnya mau coba masuk tidak?”. “Nggak usah lah mas, kita lihat dari sini saja”
jawabku diikuti anggukan kepala Risko dan Galih. “Ah mas kalau sudah sampai
sini tanggung kalau tidak masuk, kan kita juga ramai. Ayolah” ajak salah satu
pemuda yang ikut.
Akhirnya
kami mengarahkan motor kami mendekati rumah itu, kami berjejeran supaya kami
tetap berdekatan, sebelum sampai depan pintu rumah panggung itu (mungkin
sekitar 10-15 meter) tiba – tiba pintu dan jendela rumah itu terbuka sendiri
seolah – olah menyambut kami diiringi tawa wanita yang sangat keras. Sontak kami
semua menarik gas motor kami memutar balik untuk segera pergi dari rumah itu. “Jan*ok!
Apa itu tadi?” tanya Galih. “Fu*ker lah! Kita di sambut. Ampun.” Sahut Risko,
anehnya para pemuda yang ikut mereka justru penasaran ingin kembali kesana lagi
nanti sepulang dari membeli pecel lele.
Setelah
sampai di tempat makan dan berbincang – bincang hinggu dini hari, mungkin
sekitar pukul 2.00 kami memutuskan untuk kembali ke desa KK, “Mas serius mau
pulang lewat jalur tadi?”. “Kalau saya nurut saja dengan teman – teman yang
lain”. “Kalau lewat jalur tadi kita pisah saja lah mas, kami lewat jalur depan
yang biasa kami lewati”. “yasudah nanti kita pisah saja di depan gapura desa P
ya”. Akhirnya kami memisahkan diri dari rombongan dan menyusuri malam hanya
bertiga saja, yaitu Aku, ,Risko dan Galih. Untungnya selama perjalanan kami
tidak mengalami gangguan lainnya lagi, yang tertinggal hanya syok sesaat karena
kejadian tadi.
dan dari kabar yang kami terima, semalam bebrapa ppemuda itu kembali kerumah itu dan masuk kedalamnya, benar saja didalamnya sesosok wanita sudah siap menyambut kedatangan mereka.
Comments
Post a Comment