sudah saatnya (1)
“ Tadi apa?” tanya ibu kepadaku. “Tadi...itu tadi”.
“Begini buk, tadi kak axel sudah membantu saya, saya hanya mengucapkan
terimakasih” sahut windi memotong jwbanku. “benar Axel?”. “Iya bu, itu benar”.
“Yasudah , kalian harus ingat walaupun kalian sudah seperti kakak beradik tapi
kalian tidak satu darah, jadi jangan sampai salah satu di antara kalian jatuh
cinta. Ibu tidak mau ada yang aneh – aneh didalam keluarga kita. Dan kau Axel,
segala fasilitas yang ibu berikan untukmu akan ibu tahan selama satu bulan.
Mulai dari mobil, pengawal pribadi, atm, kartu kredit termasuk uang saku itu
sebagai bentuk hukuman untukmu”.”iya bu, maaf”. “Ibu, sudahlah bu..kan kita
baru sampai di rumah masa mau kita rayakan dengan marah – marah seperti ini”
sahut ayah mencoba meredakan amarah ibu. “ayah juga mau ibu ambil fasilitas
nya?”. “ya yaaa ya...eng..enggaklah tapi jangan marah – marah begitu lah, besok
malam kan kita harus ke luar negeri lagi jadi malam ini istirahat saja yuk.
Besok kita pergi jalan – jalan dengan Axel dan Windi” . Akhirnya kami dipersilahkan masuk ke kamar
masing – masing untuk beristirahat.
Pagi ini aku berangkat kesekolah dengan berjalan kaki,
setelah sarapan aku langsung beragnkat kesekolah. “Kak! Kak Axel!”. Dari
kejauhan kudengar teriakan windi
memanggilku, benar saja dia berlari mengejarku. “Loh kok nggak di antar
supir?”. “nggak papa, aku pengen jalan kaki saja ayo kita berangkat bareng”.
Aku menghentikan langkahku,"Apa? ayolah cepat nanti kita terlambat" tiba – tiba Windi menarik tanganku untuk mengikuti
langkahnya “Eh nanti kalau orang lain tahu bagaiman?”.” Memangnya kenapa kalau
mereka tahu? Kan kau kakakku”. “okeee baiklah, tapi apa harus kau gandeng terus
tanganku?”. “Iya, takut hilang hahaha”. "sebentar, lebih baik aku saja yang mneggandeng tanganmu, masa aku yang digandeng". "apa bedanya?". "ya tentu saja beda lah win. ayo jalan".
Tentu saja sesampainya disekolah orang – orang mulai
membicarakan kami, dari gosip kalau kami berpacaran dan gosip – gosip lainnya.
“Woy Axel, kalian kenapa nggak pacaran aja sih? Kan kalian sudah satu rumah”
tanya Franklin. “Aku juga pengennya begitu, tapi bagaimana memulainya?” .”ya
kau tinggal memulainya dengan Bismillah hahahaha”. “sudah kaya judul Film saja” . “Eh
xel lebih baik mengungkapkan dan ditinggalkan daripada tidak pernah mengungkapkan
dan ditinggalkan dengan orang lain. walaupun sama – sama pahit setidaknya kau
pernah mencoba”. Aku terdiam sejenak mendengarkan penjelasan Franklin. “Coba
kau lihat Windi disana? Kau juga sudah pergi makan berdua dengannya, menikmati
weekend dengannya, bahkan kau menggendongnya saat pulang kerumah. Apa yang kau
rasakan? Perasaanmu semakin pudar atau justru kau semakin ingin memilikinya?”.
“emm...semakin ingin memilikinya”. “yasudah, sudah waktunya kau beranikan
diri”. “nanti saja kita lanjutkan lagi ya di jam istirahat”. sepanjang jam pelajaran aku tak bisa berhenti memandangi windi dari bangku ku sekaligus memikirkan perkataan Franklin tadi sampai jam pelajaran berakhirpun aku masih tidak bisa melepaskan pikiranku dari Windi.
“Xel ke kantin bareng yuk”. “Sekarang win?”. “Iya, terus
mau kapan?”."iya tunggu sebentar". Sepanjang perjalanan aku asyik mengobrol dengan Windi menyusuri
lorong sekolah yang ramai tapi terasa sepi bagiku. “ persiapan ujianmu gimana
kak?” tanya windi. “eem....Aku belum siap, hehe”. “kan tinggal 1 bulan lagi,
pelaajran apa yang belum siap?”. “em...1 2 3
4 oh ternyata aku belum siap semuanya hahaha”. “kau ini , yasudah mulai sekarang
sepulang sekolah kita belajar bareng ya, kita harus siap sama – sama dan harus berhasil sama - sama. ”.
“iyaa...win aku boleh tanya sesuatu?”. “boleh, tanya apa?”. “bagaimana
pendapatmu tentang Aku?”. “ kenapa tiba – tiba tanya begitu? Kita sudah serumah
hampir 2 bulan kenapa tidak menanyakan itu dari dulu?”. “Nggak papa...jawab
saja”. “ awalnya sih Aku kira kakak itu penguntit karena pernah ketahuan
mengikutiku, terus aku kira sama dengan cowok – cowok kaya yang lain ganti –
ganti pacar seenaknya, eh tapi setelah aku tahu ternyata kakak berbeda dari
mereka, malah kakak lebih mandiri dari yang kukira, makanya aku suka”. “eh apa
barusan?”. “eng...enggak...maksudnya em...aku suka kepribadian laki – laki yang
seperti itu, patut sekali dijadikan
contoh untuk adiknya”. “oooh seperi itu, kalau kau sendiri suka laki – laki
yang seperti apa untuk dijadikan pacarmu?”. belum sempat ia menjawab pertanyaanku tiba - tiba Pembicaraan kami terputus sampai
disitu karena windi harus pergi ke ruang guru untuk keperluan yang tida
kuketahui.
Comments
Post a Comment