warungku itu...
Tak
terasa KKN hanya menyisakan beberapa hari lagi untuk selesai, setiap orang
sudah tidak sesibuk hari – hari biasanya karena kebanyakan proker yang diusung
sudah selesai dan kami lebih fokus kepada acara perpisahan bersama warga desa. “Eh
nggak kerasa ya sebentar lagi kita pulang” celetuk Niar di tengah obrolan
ringan kami di malam hari. “Iya ya tidak terasa, ayolah segera selessaikan apa
yang harus diselesaikan aku sudah rindu kost ku” sahut maryam. “Oke malam ini
kita tidak perlu briefing untuk kegiatan besok, yang jelas siapa yang belum
selesai silahkan selesaikan prokernya dan yang sudah selesai tolong membantu
teman yang lain supaya cepat selesai” pungkas risko selaku ketua posko.
Ringan
sekali rasanya karena tidak ada briefing karena biasanya kami sampai menahan
kantuk karena briefing yang terlalu lama. Kami berkumpul bersama, ada yang
asyik ngobrol, ada yang asyik makan snack dan lain – lain . aku, Risko, Pian
dan Galih mengajak anak dari pak yono untuk bermain kartu remi. “dul, ambil
kartu dong di warung. Kartunya ini nggak lengkap kayanya ada yang hilang”
pintaku kepada Abdul. “mas aja yang ambil ya aku tunggu disini”. “Lah kok gitu?
Ada apa?”. “Nggak papa mas”. “Yasudah saya ambil dulu”.
Berbekal
penerangan dari flash HP, kumasuki ruangan yang tidak begitu luas itu. Saat mengambil
kartu awalnya aku hanya merasakan merinding saja di tengkukku dan aku
menyegerakan kegiatanku didalam ruangan itu. Saat bergegas ingin menutup pintu
betapa terkejutnya aku ketika ada sesosok perempuan yang berdiri tepat
disebelah etalase yang ada disudut ruangan membelakangiku sontak aku membanting
pintu itu dan menguncinya kembali sambil berlari menuju teras rumah tempat kami
berkumpul.
“kenapa
mas? Kok lari?” tanya Abdul. “Ah nggak jelas, masa iya ada perempun didalam
warung padahal pas aku masuk tadi tidak ada siapa – siapa”. “mas Dika lihat
mukanya?”. “enggak dia membelakangiku”. “wah abdul ngerjain Dika nih wkwkw”. “Wah
iya ini...pasti ada yang menunggu warungnya makanya si Abdul nggak pernah mau
kalau disuruh ke warung? Hahaha” sahut Risko dan Galih mengejekku. Abdul malah
ikut tertawa bersama mereka “Begini mas, didalam ruangan itu memang ada yang
menunggu, terakhir kali aku masuk ruangan itu waktu dulu masih sekolah SMA. Sama
seperti mas Dika, saya mau mengambil kartu remi tiba – tiba ada mbak itu,
bedanya saya melihat mukanya mas. Maaf ngomong mas, mukannya sangat mengerikan
hancur seperti bekas kecelakaan. Makanya dulu saya pernah tanya kenapa mas Dika
kok berani masuk kesitu sendirian. Tapi setidaknya sebelum pulang mas Dika
sudah kenalan dengan dia. Hahaha “. “Wah asli gobl*k, kenapa aku nggak curiga
dari awal sih” aku masih dengan nafas yang tersengal dan tangan yang bergetar
tak kunjung berhenti.
Tapi
karena cerita mistis hampir setiap hari kami alami, dari yang hanya aroma
sampai suara yang janggal kami menjadi terbiasa dengan tiap kejadian yang
menyertai cerita KKN kami, kami melanjutkan bermain kartu remi sampai larut
malam bahkan sampai dini hari. “Mas Dika, masak knasi goreng yok lapar nih”. “Ayoklah,
tapi kamu yang masak ya, ingat ! nasi goreng putih a khas buatan emak – emak jaman
dulu. Ayo kubanu”. “Siaaap komandan! Yang lain juga mau”. “Wah kalau kami
jangan ditawari, nggak ditawari saja kami bakal minta hahahaha” pian, Risko dan
Galih pun tertawa terbahak – bahak.
“Mas
Dika, mas yang motong bahan – bahannya ya Aku yang masak”. “Aman....gampang”.
tak selang lama Aku menyelesaikan memotong bahan – bahan yang disiapkan. “Mas,
bawang putihnya kok nggak ada?” tanya Abdul. “Ada kok tadi sudah dipotong semua”.
Jawabku sambil memainkan layar HP ku. “Nggak ada mas, mas Dika lupa mungkin?”. “
Enggak, kalau nggak percaya lihat saja kulit bawang putih yang di meja”. “mas,
lebih baik mas Dika lihat dulu kesini”. “kenapa sih dul? Mas yakin sekali kalau
sudah selesai semua, kan tadi kamu juga lihat pas bahan – bahannya dipot.....loh?kok
gini?”. “Nggak tahu mas, dari tadi sudah seperti itu”. Ternyata bawang putih
yang ditanyakan oleh abdul tadi sudah berserakan semua di bawah meja makan
seperti ditaburkan dengan sengaja oleh seseorang. Padahal kami dari tadi berdua
saja di dapur bahkan jarak antara aku, Abdul dan bahan – bahan ini hanya antara
meja makan dan kursinya, pisau yang digunakan pun tergeletak dibawah meja
lengkap dengan bekas potongan bawang putih disetiap sisinya. “Udah dul, biar
mas potong lagi aja. Ini sudah jelas nggak beres dari tadi kan kita disini
nggak ada benda yang jatuh, dan lagipula ini tepat sekali dibawah meja tidak
masuk akal kalau terjatuh, logisnya dia akan jatuh ke sisi meja”. “Iya mas, ayo
kita selesaikan” Abdul pun memanggil pian, risko dan galih untuk bergabung
bersama kami agar menjadi lebih ramai.
Comments
Post a Comment