Yang Sebenarnya
“Jadi gini mas, mbak. Saya disini
adalah pemilik ketiga. Rumah ini memang ada yang menunggu sebelum kami tempati.
Wujudnya anak kecil, tapi tenang dia tidak mengganggu kok. Ceritanya dulu yang
punya rumah ini waktu melahirkan keguguran dan dikuburkan di belakang rumah”. “Tapi
kalau yang anak kecil sepertinya saya belum pernah lihat pak”. Sahutku menyela
penjelasan pak yono. “kalau itu jarang nampak mas, biasanya yang diajak main ya
yang anak – anak kecil seperti anak bapak yang paling kecil”. “jadi pak, di
hari malam pertama saya disini saya melihat bayangan hitam di sekitar pohon
besar di seberang jalan itu apa ya pak?”. “Oh itu memang penunggu pohon itu mas
dika,sebenarnya mereka seperti sepasang dan biasanya menjahili orang yang masih
baru disini atau yang lewat disekitar sini. Tapi mas dika tidak di apa – apakan
kan?”. “Alhamdulillah tidak pak”.”dulu, sebenarnya dibelakang rumah ini ada
sebuah rumah tua semi permanen yang sudah lama sekali tidak ditempati dan
dibeli oleh orang dari kota, karena ingin di tempati maka pemilik rumah ingin
merenovasinya menjadi rumah permanen. Tukang yang diberi tugas melaksanakan
pembongkaran rumah terkenal rajin sekali dan berangkat di pagi buta lengkap
dengan perlengkapannya, saat hari sudah terang sang istri berencana mengantarkan
sarapan untuk suaminya. Tapi naas, sang suami ditemukan dalam keadaan meninggal
tanpa sebab dan tidak ada bekas luka sedikitpun dengan posisi meringkuk memeluk
cangkulnya dengan mata dan mulut terbuka seperti orang ketakutan, sebenarnya
tukang itu sudah diingatkan dengan orang – orang disekitar sini jika ingin
memulai pekerjaan jangan saat masih gelap di pagi buta karena sudah banyak
saksi yang menyaksikan kejadian – kejadian janggal dirumah itu ketika menyadap
pohon karet, tapi mungkin sudah ajalnya”. Tutup pak Yono mengakhiri cerita itu.
“Lalu sekarang rumah itu bagaimana pak?”. Sambung Risko. “Rumah itu sudah
dibongkar habis oleh kami, setelah kematian itu kami bergotong royong untuk
membongkarnya. Tapi hanya dinding dari papan saja yang bisa dibongkar. Tiang penyangga
dan dan pondasi tidak bisa dihancurkan, bapak juga tidak tahu kenapa yang jelas
alat yang digunakan untuk membongkar tiang atau lantai semuanya rusak jadi kami
biarkan tetap tegak berdiri tiang – tiang itu lengkap dengan pondasi dan
beberapa peralatan rumah tangga didalamnya dan sekaraang yang tertinggal hanya
puing – puing rumah dengan semua kegiatan makhluk tak terlihat yang masih
sering memberikan kode dengan menggerakkan alat – alat rumah tangga, atau
membuat suara yang ramai seperti orang hajatan disekitar situ , mas dika mau
coba lihat ?”. “ mungkin kalau tidak malam hari saya berani pak, hehe”.
“Oh iya mas – mas dan mbak – mbak kalau matahari
sudah tenggelam, tolong jangan ada yang dibelakang rumah ya terutama disekitar
kolam ikan, bahaya”. Tambah pak Yono yang menambah rasa penasaran kami. “Kenapa
pak?”. Sahut Dina. “di ujung kolam tepat di sekitar pohon sawit agak rawan dan
jahil, sudah banyak kejadian yang saya alami ketika mengandangkan kambing –
kambing bapak. Dari yang dilempar batu, diteriaki, di tampar sampai pernah juga
diseret sampai ke ujung kolam”. Tentu kami semua terkejut dengan pernyataan
bapak itu. “Kenapa sih pak kok disini seperti itu? Rasanya disetiap sudut rumah
ini diawasi makhluk – makhluk seperti itu,dan lagi setiap orang yang bertemu
dengan kami juga selalu menanyakan sudah pernah lihat apa dirumah ini.
memangnya sebegitu seramnya rumah ini ya?”. Tanya galih. “kalau menurut
penuturan dari orang – orang tua disekitar sini, dirumah kita tepat dibelakang
sini memang ‘Jalannya’ hal – hal seperti itu jadi sering lalu lalang disekitar
sini, dan yang paling jahat adalah siluman ular yang berbadan manusia, jadi mas
– mbak kalau ketemu ular hitam diskitar rumah usir saja mbak jangan dibunuh”. Kami
tetap terpaku dalam diam mendengar penjelasan bapak itu. “sudah dulu ya mas,
nanti di lain hari kita lanjutkan lagi. Bapak mau berangkt kerja dulu takutnya
kalau tidak berangkat kerja dapur tidak ‘ngebul’ hahahaha”. Kami pun semuanya
tertawa menghilangkan raut wajah tegang karena cerita pak Yono.
“Tuh
kan, kubilang juga apa. Dari awal memang ada yang berbeda dari rumah ini”. Niar
menegaskan bahwa perkataannya saat observasi adalah benar. “ya tapi mau
bagaimana lagi selain menjaga diri kita masing – masing, apa kau mau
mengundurkan diri?” sahut maryam. “ya tentu saja tidak, kita tinggal 2 minggu
lagi kan disini. Aku akan bertahan”. Kami pun menutup sarapan kami dengan cerita
horor dari pak Yono, memang ternyata rasa takut bisa datang sepagi ini.
Comments
Post a Comment